Akupunktur Medik Terbukti Ilmiah untuk Anti-Aging dan Wellness
AKUPUNKTUR medis kini telah terintegrasi secara penuh dengan kedokteran konvensional sebagai metode yang terukur untuk mendukung penuaan sehat (anti-aging) dan kesejahteraan tubuh (wellness). Hal ini ditegaskan Rina Nurbani, spesialis akupunktur medik, dalam sebuah sesi seminar “Complete Meical Aesthetic and Wellness, Led by Specialist”
Rina menjelaskan akupunktur medik berbeda dengan pandangan tradisional yang sering dianggap sebagai pengobatan alternatif semata. Secara terminologi, akupunktur berasal dari kata acus (jarum) dan puncture (penusukan). Dalam praktik modern, teknik ini telah diintegrasikan dengan ilmu kedokteran konvensional berdasarkan uji klinis yang ketat.
"Ilmu akupunktur telah diintegrasikan dengan kedokteran konvensional, kedokteran modern, berdasarkan uji klinis," ujar Rina. Bahkan, World Health Organization (WHO) telah memasukkan akupunktur ke dalam sistem ketahanan nasional di berbagai negara karena efektivitasnya yang terbukti secara medis.
Picu Cell Signaling
Secara teknis, penusukan pada titik akupunktur bekerja dengan merangsang daerah tertentu yang memicu aktifnya cell signaling. Proses ini mempengaruhi fungsi sel secara neuro (saraf), endokrin (hormon), dan imun dengan tujuan utama mencapai kondisi homeostasis atau keseimbangan tubuh.
Saat jarum ditusukkan ke kulit, terjadi proses pelepasan mediator peradangan lokal yang ditangkap serabut saraf. Respon ini dihantarkan ke medula spinalis (tulang belakang) hingga ke susunan saraf pusat atau otak. "Otak akan mengatur kebutuhan tubuhnya untuk apa, apakah hormon apa yang perlu dikeluarkan," jelasnya.
Anti-Aging
Dalam konteks anti-aging, akupunktur memicu mikrotrauma yang merangsang fase proliferasi sel fibroblast. Hal ini meningkatkan produksi kolagen dan elastin, serta memperbaiki mikrosirkulasi pembuluh darah dan aliran limfe. Hasil akhirnya adalah perbaikan tekstur kulit dan penghambatan degradasi matriks ekstraseluler secara alami.
Bukan sekadar teori, peran akupunktur dalam peremajaan wajah dan kesehatan sistemik didukung oleh berbagai riset terbaru. Dr. Rina mengutip penelitian Normawati (2024) yang membuktikan bahwa akupunktur dapat memperbaiki lipatan nasolabial secara signifikan. Selain itu, studi sistematik tahun 2025 menunjukkan hasil yang lebih optimal pada pasien insomnia saat akupunktur dikombinasikan dengan terapi medis dibandingkan hanya menggunakan obat-obatan saja.
Gangguan Saraf Otonom
Selain estetika, akupunktur medik terbukti secara klinis berperan dalam menangani gangguan saraf otonom. Seperti penyakit kardiovaskular, PCOS, hingga penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson yang erat kaitannya dengan proses penuaan.
Untuk meminimalkan rasa sakit, praktik akupunktur medik modern menggunakan jarum yang sangat tipis. Jika jarum standar memiliki ketebalan 0,25 mm, Rina menggunakan jarum khusus berukuran 0,14 mm. Tujuannya memberikan kenyamanan maksimal bagi pasien tanpa mengurangi efek terapi.
Sebagai kesimpulan, Rina menekankan akupunktur medik adalah pendekatan integratif berbasis bukti (evidence-based). "Akupunktur tidak pakai obat, hanya memaksimalkan kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri," pungkasnya. (Z-2)