Surat Cinta Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk Rakyat Amerika Serikat
PRESIDEN Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan terbuka kepada warga Amerika Serikat (AS) dan masyarakat dunia di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Pesan tersebut disampaikan melalui unggahan di platform X pada Rabu (1/4).
Dalam pernyataannya, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak memusuhi rakyat Amerika, melainkan menolak kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan negaranya. Ia juga menekankan bahwa Iran, sebagai salah satu peradaban tertua di dunia, tidak pernah memulai perang dalam era modern.
"Meskipun memiliki keunggulan militer atas banyak negara tetangganya, Iran tidak pernah memulai perang. Namun, Iran dengan tegas dan berani telah menolak mereka yang menyerangnya," tulis Pezeshkian dikutip CNN, Jumat (3/4).
Ia menambahkan bahwa rakyat Iran tidak memandang bangsa lain sebagai musuh, termasuk warga Amerika, Eropa, maupun negara-negara Arab. Menurutnya, sikap tersebut merupakan bagian dari nilai budaya yang telah mengakar kuat.
"Ini prinsip yang mengakar kuat dalam budaya dan kesadaran kolektif Iran, bukan sikap politik sementara. Oleh karena itu, menggambarkan Iran sebagai ancaman tidak sesuai dengan realitas sejarah maupun fakta yang dapat diamati saat ini," lanjutnya.
Pezeshkian juga menilai citra Iran sebagai ancaman global dibentuk oleh kepentingan tertentu, baik politik maupun ekonomi. Ia menuding narasi tersebut digunakan untuk membenarkan dominasi militer dan tekanan internasional terhadap Iran.
"Dalam lingkungan seperti itu, jika ancaman tidak ada, maka ancaman itu diciptakan. Dalam kerangka kerja yang sama, AS telah memusatkan sebagian besar pasukan, pangkalan, dan kemampuan militernya di sekitar Iran, negara yang, setidaknya sejak berdirinya Amerika Serikat, belum pernah memulai perang," tulisnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil Iran selama ini merupakan bentuk pembelaan diri yang sah, bukan tindakan agresi.
"Apa yang telah dilakukan Iran adalah respons terukur yang didasarkan pada pembelaan diri yang sah, dan sama sekali bukan inisiasi perang atau agresi," ujarnya.
Dalam pesannya, Pezeshkian juga menyinggung sejarah hubungan Iran dan Amerika Serikat yang awalnya tidak diwarnai permusuhan. Namun, hubungan tersebut memburuk setelah peristiwa kudeta tahun 1953 yang didukung AS.
"Hubungan antara Iran dan AS pada awalnya tidak bermusuhan serta interaksi awal antara rakyat Iran dan Amerika tidak diwarnai dengan permusuhan atau ketegangan," imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa ketidakpercayaan semakin dalam akibat berbagai kebijakan Washington, termasuk dukungan terhadap rezim Shah, dukungan kepada Saddam Hussein pada perang 1980-an, serta penerapan sanksi berkepanjangan.
"Ketidakpercayaan ini semakin dalam dengan dukungan AS terhadap rezim Shah, dukungannya terhadap Saddam Hussein selama perang yang dipaksakan pada 1980-an, pemberlakuan sanksi terpanjang dan terlengkap dalam sejarah modern, dan akhirnya, agresi militer tanpa provokasi, yang diluncurkan dua kali di tengah negosiasi terhadap Iran," tulisnya.
Meski berada di bawah tekanan, Pezeshkian menilai Iran tetap menunjukkan kemajuan di berbagai sektor, seperti pendidikan, teknologi, kesehatan, dan infrastruktur.
"Ini adalah realitas yang terukur dan dapat diamati yang berdiri sendiri terlepas dari narasi yang dibuat-buat," ucapnya.
Ia juga mengkritik serangan terhadap fasilitas energi dan industri Iran yang dinilai berdampak langsung pada masyarakat sipil serta memperburuk ketidakstabilan global.
"Mereka menciptakan ketidakstabilan, meningkatkan biaya manusia dan ekonomi, dan melanggengkan siklus ketegangan, yang menanam benih kebencian yang akan bertahan selama bertahun-tahun. Ini bukanlah demonstrasi kekuatan. Ini tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi yang berkelanjutan," tegasnya.
Di bagian akhir pesannya, Pezeshkian menyinggung peran Israel yang menurutnya turut memengaruhi kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran serta mengalihkan perhatian dunia dari isu Palestina.
"Apakah America First benar-benar termasuk dalam prioritas pemerintah AS saat ini?" tanyanya.
Ia pun mengajak masyarakat internasional untuk menilai konflik secara objektif dan memilih jalur dialog dibandingkan konfrontasi.
"Saat ini, dunia berada di persimpangan jalan. Melanjutkan jalan konfrontasi lebih mahal dan sia-sia daripada sebelumnya. Pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan adalah nyata dan penting. Hasilnya akan membentuk masa depan bagi generasi mendatang," ujarnya.
Menutup pernyataannya, Pezeshkian menegaskan ketahanan Iran sepanjang sejarah.
"Sepanjang ribuan tahun sejarahnya yang membanggakan, Iran telah bertahan lebih lama daripada banyak agresor. Yang tersisa dari mereka hanyalah nama-nama yang ternoda dalam sejarah, sementara Iran tetap bertahan, tangguh, bermartabat, dan berbangga," pungkasnya. (I-2)