Krisis Energi Memuncak, Kantor Partai Komunis Kuba Menjadi Sasaran Amuk Massa


Penulis:  Thalatie K Yani - 15 March 2026, 09:45 WIB
BBC

GELOMBANG keresahan publik di Kuba meledak menjadi aksi vandalisme yang jarang terjadi. Sekelompok pengunjuk rasa dilaporkan menyerbu dan merusak gedung Partai Komunis di kota Moron, Sabtu (14/3/2026), sebagai bentuk protes atas melambungnya harga pangan dan pemadaman listrik yang terus berlanjut.

Kementerian Dalam Negeri Kuba (Minint) mengonfirmasi bahwa lima orang telah ditangkap setelah aksi perusakan tersebut. Insiden ini menandai salah satu ekspresi ketidakpuasan publik paling mencolok di negara satu partai tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Legitimasi Keluhan di Tengah Blokade

Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, mengakui keluhan masyarakat mengenai kondisi hidup saat ini adalah hal yang wajar. Namun, ia menegaskan tindakan anarkis tidak akan dibiarkan.

"Meskipun keluhan dan tuntutan para pengunjuk rasa adalah 'sah', kekerasan dan vandalisme yang mengancam ketenangan warga tidak akan ditoleransi," ujar Díaz-Canel melalui unggahan di platform X.

Ia menambahkan bahwa pemadaman listrik yang berkepanjangan memang menyebabkan "kesusahan", namun ia menuding blokade minyak Amerika Serikat (AS) sebagai penyebab utama. Menurut Díaz-Canel, tidak ada bahan bakar yang masuk ke negara itu selama tiga bulan terakhir akibat tekanan Washington.

Dampak Kelumpuhan Ekonomi

Krisis ini telah membawa ekonomi Kuba ke ambang keruntuhan. Di ibu kota Havana, pemadaman listrik dilaporkan mencapai 15 jam sehari. Dampaknya terasa luas, mulai dari terhentinya layanan pengangkutan sampah, gangguan pada bangsal darurat rumah sakit, hingga lumpuhnya transportasi umum dan pendidikan.

Aksi protes di Moron awalnya berjalan damai sebelum akhirnya eskalasi terjadi. Surat kabar pemerintah, Invasor, melaporkan bahwa sekelompok orang melempari pintu masuk gedung dengan batu dan membakar furnitur dari area resepsionis di tengah jalan. Selain kantor partai, sebuah apotek dan pasar milik pemerintah juga menjadi sasaran.

Ketegangan Geopolitik dengan Amerika Serikat

Situasi di Kuba semakin terjepit setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan melakukan "pengambilalihan secara bersahabat" dan menyebut Kuba dalam "masalah besar". Sejak Januari, AS telah memblokir pengiriman minyak dari Venezuela yang selama ini memenuhi separuh kebutuhan energi Kuba.

Di tengah ketegangan ini, pemerintah Havana mengonfirmasi bahwa pembicaraan dengan AS untuk mencari solusi melalui dialog sebenarnya sedang berlangsung. Namun, tekanan dari kebijakan luar negeri AS yang semakin intensif dalam beberapa bulan terakhir membuat pemulihan stabilitas domestik menjadi tantangan besar bagi pemerintah Kuba.

Meskipun konstitusi 2019 memberikan hak untuk berdemonstrasi, praktik protes publik tetap sangat jarang terjadi di Kuba karena regulasi yang masih tertahan di legislatur. Kini, pemandangan warga yang memukul panci di jalanan atau aksi protes mahasiswa di Universitas Havana menjadi simbol keputusasaan warga atas krisis energi yang kian mendalam. (BBC/Z-2)