Trump Sebut AS Siap Hancurkan Target Strategis Iran dalam Satu Hari
PRESIDEN Donald Trump mengungkapkan masih ada beberapa target strategis yang belum disentuh oleh militer AS. Target-target tersebut diklaim dapat dihancurkan hanya dalam waktu satu hari, namun serangan terhadap lokasi itu diyakini akan memberikan dampak yang sangat menghancurkan bagi Iran.
"Kami sedang menunggu untuk melihat apa yang terjadi sebelum kami menyerang mereka," tegasnya.
Trump kembali menekankan posisi AS saat ini berada jauh di depan jadwal operasi yang direncanakan. "Kami tidak menyangka setelah sebulan akan sampai di titik ini," pungkasnya, merujuk pada kemajuan pesat hanya dalam waktu 10 hari sejak operasi dimulai.
Trump mengklaim kekuatan tempur Iran telah hancur dalam sepuluh hari pertama sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara.
"Kami menyapu bersih mereka dalam dua hari pertama," ujar Trump merujuk pada serangan awal yang menargetkan kepemimpinan dan kapabilitas tempur Iran. Ia menegaskan bahwa angkatan laut dan angkatan udara negara tersebut telah hancur, bersama dengan sebagian besar persenjataan mereka.
"Rudal mereka kini tinggal sedikit, drone mereka mungkin tersisa 25%, dan segera akan habis sama sekali," tambah Trump. Ia juga mengungkapkan bahwa fasilitas manufaktur drone Iran sedang digempur saat pernyataan itu disampaikan.
Respons Terhadap Gugurnya Tentara AS
Di tengah klaim kemenangan tersebut, Trump dikonfrontasi mengenai jumlah korban jiwa di pihak militer Amerika Serikat setelah kematian prajurit ketujuh dikonfirmasi. Menanggapi hal itu, Trump menyebut kematian adalah konsekuensi yang tidak terhindarkan dalam peperangan.
"Saat Anda menghadapi konflik seperti ini, selalu ada kematian," jawabnya.
Trump menceritakan pertemuannya dengan keluarga tentara yang gugur di Pangkalan Angkatan Udara Dover dua hari lalu. Menurutnya, pihak keluarga memberikan dukungan penuh agar operasi militer ini terus berlanjut hingga tuntas.
"[Mereka berkata] 'selesaikan tugasnya Pak, tolong selesaikan tugasnya'," tutur Trump menirukan pesan keluarga korban.
Mencari Pemimpin Baru Iran
Meski menganggap kepemimpinan baru di Iran, yang kini dipimpin Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Khamenei, sebagai sosok yang tidak bisa diterima, Trump belum memberikan rincian siapa tokoh yang ia inginkan untuk memimpin negara tersebut.
Namun, Trump memberikan sinyal bahwa ia menginginkan sosok dari internal yang bisa membawa perubahan, bahkan secara spesifik menyebut model kepemimpinan seperti Delcy Rodriguez dari Venezuela sebagai referensi. Tantangan besarnya, menurut pengamat, banyak tokoh moderat dilaporkan turut tewas dalam rangkaian serangan AS. (BBC/Z-2)