AS-Israel Gempur Iran usai Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi


Penulis:  Thalatie K Yani - 10 March 2026, 03:52 WIB
AFP

ESKALASI konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang mencekam. Pesawat tempur Amerika Serikat dan Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke berbagai wilayah Iran pada Senin waktu setempat. Serangan ini terjadi bertepatan dengan aksi turun ke jalan ribuan warga di Teheran untuk menyatakan kesetiaan kepada Mojtaba Khamenei, yang baru saja ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Konflik yang kini memasuki minggu kedua tersebut terus memanas. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel, pangkalan militer AS di Timur Tengah, hingga infrastruktur energi di kawasan Teluk.

Di tengah dentuman ledakan, massa berkumpul di Lapangan Enghelab, Teheran. Sambil mengibarkan bendera Iran dan potret mendiang Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara Israel di awal perang. Mereka juga meneriakkan slogan anti-Barat.

"Jalan Imam Khamenei yang syahid akan terus berlanjut di bawah nama Khamenei," ujar Hosseinali Eshkevari, anggota Majelis Ahli Iran, lembaga yang bertugas memilih Pemimpin Tertinggi.

Namun, pengangkatan Mojtaba Khamenei mendapat kecaman keras dari dunia internasional. Presiden AS, Donald Trump, mengkritik keras keputusan tersebut. "Saya pikir mereka membuat kesalahan besar. Saya tidak tahu apakah ini akan bertahan lama," kata Trump kepada NBC.

Dampak Ekonomi Global dan Blokade Maritim

Ketegangan ini memicu guncangan hebat pada ekonomi dunia. Harga minyak melonjak drastis, menyebabkan pasar saham global anjlok. Serangan Iran di Selat Hormuz bahkan telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas kapal tanker di jalur yang memasok seperlima kebutuhan minyak dunia tersebut.

Prancis dan sekutunya kini tengah menyiapkan misi angkatan laut untuk mengawal kapal-kapal tanker guna membuka kembali jalur pelayaran tersebut. "Misi ini bertujuan mengawal kapal kontainer dan tanker setelah fase terpanas konflik berakhir," ujar Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Namun, Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, menegaskan jalur aman di Selat Hormuz tidak akan pulih selama AS dan Israel terus "menyalakan api" di kawasan tersebut.

Krisis Kemanusiaan di Libanon dan Teluk

Di Libanon, Israel terus menekan pos-pos Hizbullah melalui serangan udara di Beirut dan operasi darat di wilayah selatan. Serangan ini memicu eksodus besar-besaran.

"Perpindahan massal di seluruh Libanon telah memaksa hampir 700.000 orang, termasuk sekitar 200.000 anak-anak, meninggalkan rumah mereka," ungkap Edouard Beigbeder, Direktur Regional UNICEF.

Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 1.230 orang tewas di Iran, 397 di Libanon, dan 11 di Israel. Selain itu, negara-negara tetangga seperti Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain juga melaporkan kerusakan infrastruktur serta korban luka akibat serpihan rudal dan serangan drone Iran yang menyasar wilayah mereka. (The Guardian/Z-2)