12 Orang Tewas saat Serangan Drone Rusia Hantam Bus Pekerja Tambang dan RS Bersalin di Ukraina
ESKALASI serangan udara Rusia di wilayah timur Ukraina menelan korban jiwa warga sipil dalam jumlah besar pada Minggu (1/2). Sebuah bus yang membawa pekerja tambang sepulang kerja menjadi sasaran serangan drone di wilayah Dnipropetrovsk, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai tujuh lainnya.
DTEK, perusahaan energi swasta terbesar di Ukraina, mengonfirmasi bahwa serangan mematikan itu terjadi di kota Ternivka. Meskipun awalnya dilaporkan 15 orang tewas, DTEK kemudian merevisi jumlah korban jiwa menjadi 12 orang.
RS Bersalin Menjadi Sasaran
Di wilayah Zaporizhzhia, kemarahan publik memuncak setelah sebuah drone menghantam Rumah Sakit Bersalin No. 3. Serangan ini melukai enam orang, termasuk dua perempuan yang sedang dalam proses persalinan. Rekaman video menunjukkan kerusakan parah pada ruang pasien dan ruang anak, dengan puing-puing kaca berserakan di atas tempat tidur medis.
Kepala wilayah Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, mengecam keras tindakan ini melalui pesan di Telegram sebagai "bukti perang yang diarahkan melawan kehidupan." Senada dengan Fedorov, Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha menyatakan bahwa serangan terhadap rumah sakit membuktikan Presiden Rusia Vladimir Putin sedang menjalankan "perang melawan warga sipil yang bertentangan dengan upaya perdamaian."
Berakhirnya Gencatan Senjata Musim Dingin
Gelombang serangan ini terjadi tepat saat suhu di Ukraina diperkirakan merosot hingga di bawah -20°C. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan Putin setuju untuk menghentikan serangan selama cuaca dingin ekstrem. Namun, Kremlin menegaskan jeda serangan tersebut berakhir pada Minggu.
Di sisi lain, Ukraina melaporkan sedang bekerja sama dengan SpaceX milik Elon Musk untuk memblokir penggunaan sistem satelit Starlink oleh Rusia dalam serangan drone. Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov menyampaikan apresiasinya kepada Musk yang disebutnya sebagai "sahabat sejati rakyat Ukraina" setelah langkah-langkah pencegahan penggunaan ilegal tersebut mulai menunjukkan hasil.
Penundaan Perundingan Damai
Di tengah berkecamuknya pertempuran, Presiden Volodymyr Zelensky mengumumkan putaran kedua perundingan trilateral untuk mengakhiri perang akan diundur. Pertemuan yang melibatkan pejabat Rusia, Ukraina, dan AS tersebut dijadwalkan ulang menjadi Rabu mendatang di Abu Dhabi, dari rencana semula pada hari Minggu.
Hingga saat ini, poin krusial dalam negosiasi yang dimediasi AS adalah tuntutan Rusia agar Ukraina menyerahkan wilayah yang diduduki, termasuk sebagian besar wilayah Donbas. Sebaliknya, Ukraina dilaporkan menuntut pengembalian kendali atas pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Zaporizhzhia sebagai syarat perdamaian. (BBC/Z-2)