Israel Setuju Buka Gerbang Rafah Terbatas, Syaratkan Pembebasan Sandera
PEMERINTAH Israel menyetujui pembukaan kembali pintu perbatasan Rafah secara terbatas untuk akses pejalan kaki. Keputusan ini diambil di bawah mekanisme inspeksi ketat dari militer Israel dan merupakan bagian dari rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kantor Perdana Menteri Israel dalam pernyataan resminya pada Minggu (25/1) malam, menegaskan bahwa pembukaan akses ini tidak bersifat mutlak. Israel menetapkan syarat utama berupa pengembalian seluruh sandera yang masih hidup serta upaya maksimal dari pihak Hamas untuk menyerahkan jenazah sandera yang telah terbunuh.
Saat ini, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) masih melangsungkan operasi terfokus guna menindaklanjuti data intelijen terkait keberadaan jenazah salah satu sandera, Ran Gvili. Gerbang Rafah, yang menjadi urat nadi pergerakan manusia dan bantuan kemanusiaan antara Jalur Gaza dan Mesir, baru akan dibuka setelah operasi tersebut tuntas dan sesuai dengan kesepakatan yang dicapai bersama Amerika Serikat.
Meskipun gencatan senjata telah diupayakan, perbatasan ini sebelumnya tetap ditutup rapat oleh Israel dengan alasan stabilitas keamanan.
Situasi di Lapangan
Di sisi lain, situasi keamanan di Jalur Gaza masih bergejolak. Otoritas kesehatan setempat melaporkan tiga warga Palestina tewas akibat tembakan militer Israel dalam dua insiden terpisah pada hari Minggu. Selain itu, serangan pesawat nirawak (drone) di Kota Gaza dilaporkan melukai empat orang lainnya.
Langkah pembukaan Rafah ini dipandang sebagai ujian krusial bagi implementasi rencana damai AS di tengah ketegangan yang masih membara di lapangan. (Xinhua/Arab News/B-3)