Venezuela Terima Rp5 Triliun dari Penjualan Minyak AS untuk Menahan Kejatuhan Bolivar


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 21 January 2026, 13:41 WIB
AFP

PEMERINTAH Venezuela menerima dana sebesar US$300 juta (sekitar Rp5,0 triliun) dari hasil penjualan minyak mentah yang dikelola oleh Amerika Serikat. Dana segar tersebut akan digunakan untuk menopang nilai tukar mata uang nasional, bolivar, yang terus tertekan akibat krisis ekonomi berkepanjangan dan kelangkaan dolar.

Pernyataan itu disampaikan pemimpin interim Venezuela Delcy Rodríguez pada Selasa waktu setempat. Dana US$300 juta tersebut merupakan bagian dari total sekitar US$500 juta (sekitar Rp8,4 triliun) hasil penjualan minyak Venezuela yang dilakukan oleh Washington.

Rodríguez mengatakan dana itu akan disalurkan ke pasar valuta asing guna menambah pasokan dolar, dengan tujuan menstabilkan kurs bolivar serta melindungi pendapatan dan daya beli pekerja Venezuela.

“Dana ini akan digunakan untuk menstabilkan pasar valuta asing guna melindungi pendapatan dan daya beli para pekerja kami,” ujar Rodríguez.

Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menyebut transaksi tersebut sebagai kesepakatan energi bersejarah yang diklaim akan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Amerika Serikat dan Venezuela.

Presiden AS Donald Trump menyatakan minyak Venezuela dapat dijual sesuai harga pasar internasional, namun hasil penjualannya tetap berada di bawah kendali pemerintah Amerika Serikat.

Bolivar Terpuruk, Dolar Jadi Mata Uang De Facto

Valuta asing memegang peran krusial dalam perekonomian Venezuela sejak 2018, ketika mata uang bolivar mengalami kejatuhan nilai yang sangat tajam hingga nyaris kehilangan fungsinya sebagai alat tukar utama.

Sejak saat itu, dolar Amerika Serikat menjadi mata uang de facto dalam berbagai transaksi, mulai dari perdagangan ritel hingga sektor properti. Meski bolivar masih beredar berdampingan dengan dolar, kelangkaan dolar yang dipicu oleh embargo minyak AS selama enam tahun terakhir membuat nilai tukar dolar melonjak tajam di pasar domestik.

Menurut lembaga analisis ekonomi Ecoanalítica, intervensi pemerintah di pasar valuta asing bertujuan memperkecil secara bertahap selisih antara kurs dolar resmi dan nilai tukar di pasar gelap, yang selama ini mencerminkan tekanan riil terhadap ekonomi Venezuela.

Penjualan Minyak di Bawah Bayang-bayang Sanksi

Sebelum Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, pemerintah Venezuela terpaksa menjual minyak mentahnya dengan potongan harga besar untuk menghindari sanksi embargo minyak AS. Pada periode tersebut, Tiongkok menjadi pembeli utama minyak Venezuela.

Washington mulai memperketat pengawasan terhadap praktik itu sejak Desember lalu, termasuk dengan menyita kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Venezuela yang masih dikenai sanksi.

Masuknya dana US$300 juta (Rp5,0 triliun) ini memberi ruang napas sementara bagi pemerintah Venezuela. Namun, para ekonom menilai stabilisasi bolivar tetap akan bergantung pada ketersediaan dolar yang berkelanjutan, reformasi ekonomi struktural, serta kepastian kebijakan pasca perubahan politik di Caracas. (AFP/Z-10)