Benarkah Makanan Olahan Paling Merusak Bumi?


Penulis:  Thalatie K Yani - 24 March 2026, 08:30 WIB
freepik

BANYAK orang mengira cara termudah menyelamatkan bumi adalah dengan menghindari makanan olahan. Namun, riset terbaru dari School of Psychology, Universitas Nottingham, mengungkap persepsi konsumen sering kali meleset jauh dari realitas ilmiah.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Cleaner Production ini melibatkan 168 partisipan di Inggris. Mereka diminta mengategorikan berbagai produk supermarket berdasarkan dampak lingkungannya. Hasilnya? Terjadi kesalahpahaman massal tentang apa yang benar-benar merusak planet kita.

Jebakan Persepsi "Hewani vs Nabati"

Para peneliti menemukan orang cenderung menyederhanakan penilaian hanya berdasarkan dua faktor. Apakah makanan itu berasal dari hewan dan seberapa tinggi tingkat pengolahannya.

Secara umum, masyarakat menganggap daging, produk susu, dan makanan ultra-proses adalah musuh lingkungan. Namun, penilaian ini mengabaikan detail penting. Banyak partisipan yang justru meremehkan dampak buruk dari produk padat air seperti kacang-kacangan, serta terkejut saat mengetahui betapa jauh lebih besarnya dampak lingkungan daging sapi dibandingkan daging ayam.

Para ilmuwan menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) atau penilaian siklus hidup untuk mengukur dampak nyata sebuah produk. Metode ini melacak jejak pangan dari "awal hingga akhir", mulai dari penggunaan pupuk, air, energi, hingga emisi gas rumah kaca dan limbah yang dihasilkan.

Pentingnya Label Dampak Lingkungan

Daniel Fletcher, peneliti pasdadoktoral sekaligus penulis utama studi ini, menjelaskan tugas interaktif dalam riset ini berhasil mengubah niat beli partisipan setelah mereka melihat data ilmiah yang sebenarnya.

"Kami menemukan partisipan bersedia mengubah perilaku pembelian mereka berdasarkan tugas ini. Mereka melaporkan niat untuk mengurangi (atau menambah) konsumsi produk di masa depan setelah merasa terkejut dengan betapa tinggi (atau rendah) perkiraan ilmiah dampak lingkungan produk tersebut," ujar Fletcher.

Ia menambahkan konsumen sering kesulitan membandingkan antara produk hewani dan makanan olahan karena menganggap dampaknya terlalu berbeda untuk ditimbang. "Label dampak lingkungan yang memberikan nilai keseluruhan tunggal (seperti A-E) dapat membantu memudahkan perbandingan ini bagi konsumen," tambahnya.

Menuju Konsumsi Berkelanjutan

Profesor Alexa Spence, rekan penulis studi tersebut, menegaskan ketersediaan data dampak lingkungan membuka jalur baru dalam riset pangan. Menurutnya, temuan ini memperkuat urgensi penerapan label informasi lingkungan pada setiap produk.

"Apa yang jelas dari studi ini adalah adanya banyak kesalahpahaman, yang sangat mendukung kebutuhan akan pelabelan dampak lingkungan untuk membantu orang menjadi lebih terinformasi dalam membuat pilihan makanan yang berkelanjutan," kata Spence.

Dengan adanya label yang jelas, konsumen diharapkan tidak lagi terjebak pada asumsi sederhana dan bisa berkontribusi nyata dalam menekan emisi gas rumah kaca serta menjaga biodiversitas melalui apa yang mereka letakkan di piring makan. (Science Daily/Z-2)