Mengapa Seseorang Bisa Kalap? Menilik Sisi Psikologis di Balik Aksi Kekerasan
KASUS kekerasan fisik yang marak terjadi belakangan ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat: apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikiran seseorang hingga ia kehilangan kendali dan tega melukai sesama?
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., menjelaskan bahwa fenomena ini dapat ditinjau dari sisi biologis otak manusia.
Menurutnya, terdapat dua area utama yang berperan dalam merespons emosi, yakni amigdala dan prefrontal cortex.
Dominasi Amigdala vs Peran Rasionalitas
Novi memaparkan bahwa amigdala merupakan pusat emosi dasar manusia, seperti rasa takut dan marah. Saat seseorang berada dalam kondisi tertekan, bagian otak ini dapat mengambil alih kendali.
“Amigdala adalah pusat emosi dasar seperti takut dan marah. Ketika seseorang merasa terancam atau tertekan, bagian ini bisa mendominasi dan memicu respons instingtif seperti menyerang, lari, diam, atau mengikuti,” ujar Novi, dikutip Jumat (20/3).
Sebaliknya, manusia memiliki prefrontal cortex yang berfungsi sebagai penyeimbang untuk berpikir rasional dan mengelola perilaku. Masalah muncul ketika bagian ini tidak berfungsi optimal.
“Kalau prefrontal cortex tidak terlatih atau tidak optimal, seseorang cenderung merespons secara impulsif. Di situ kekerasan bisa terjadi karena emosi lebih dominan daripada akal,” tambahnya.
Faktor Lingkungan dan Media Sosial
Pola asuh dan pendidikan memegang peranan krusial dalam melatih kemampuan ini. Novi menilai budaya yang minim dialog serta kurangnya latihan berpikir kritis sejak dini membuat seseorang sulit menunda respons emosional.
Selain itu, paparan media sosial yang intens turut memperburuk keadaan karena mendorong orang untuk bereaksi cepat tanpa refleksi mendalam.
Senada dengan hal tersebut, psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., menyebutkan bahwa perilaku kekerasan kerap muncul saat intensitas emosi melampaui kemampuan individu untuk mengelolanya.
“Dalam kondisi ini, respons emosional seperti marah atau merasa terancam menjadi sangat dominan dibandingkan kemampuan berpikir rasional. Akibatnya, individu dapat bertindak impulsif sebagai cara melampiaskan ketegangan emosi,” tutur lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Pemicu dan Solusi Pencegahan
Ratih menambahkan, ada berbagai faktor eksternal yang dapat menurunkan toleransi seseorang terhadap frustrasi, di antaranya:
- Stres berkepanjangan dan kelelahan fisik.
- Konflik dalam relasi antarmanusia.
- Riwayat pengalaman kekerasan di masa lalu.
- Pengaruh penggunaan zat tertentu.
Sebagai langkah antisipasi, kedua pakar ini sepakat bahwa kunci utama mencegah respons agresif adalah dengan melatih kemampuan mengenali dan mengelola emosi sejak dini.
Dengan regulasi emosi yang baik, seseorang diharapkan tetap mampu berpikir jernih meski berada di bawah tekanan hidup yang berat. (Ant/Z-1)