Peneliti Ciptakan Termometer 2D Setipis Atom, Bisa Ditanam Langsung di Prosesor


Penulis: Muhammad Ghifari A - 18 March 2026, 09:43 WIB
Jaydyn Isiminger / Penn State

PARA peneliti dari Pennsylvania State University (Penn State) berhasil mengembangkan sensor suhu revolusioner yang sangat kecil hingga bisa ditanam langsung ke dalam chip prosesor. Inovasi ini berpotensi meningkatkan efisiensi dan performa perangkat elektronik di masa depan.

Penelitian yang dipublikasikan pada 6 Maret di jurnal Nature Sensors ini memperkenalkan termometer dua dimensi (2D). Termometer ini mampu mendeteksi perubahan suhu dalam waktu hanya 100 nanodetik jutaan kali lebih cepat dibandingkan kedipan mata manusia.

Ukuran Super Kecil, Kinerja Super Cepat

Sensor ini memiliki ukuran yang sangat mini, yakni hanya sekitar satu mikrometer persegi. Dengan ukuran tersebut, ribuan sensor dapat ditanam dalam satu chip prosesor tanpa memakan banyak ruang.

Keunggulan utama teknologi ini adalah kemampuannya memantau suhu secara langsung di dalam chip. Saat ini, sebagian besar prosesor masih mengandalkan sensor suhu eksternal yang berada di luar chip, sehingga responsnya lebih lambat dan kurang akurat.

Padahal, komponen kecil dalam chip seperti transistor dapat mengalami lonjakan suhu dengan sangat cepat. Karena keterbatasan sensor eksternal, sistem biasanya menerapkan pembatasan suhu secara menyeluruh, bukan berdasarkan titik panas spesifik di dalam chip.

Teknologi baru ini mengatasi masalah tersebut dengan menghadirkan pemantauan suhu real-time langsung dari dalam prosesor.

Material Baru yang Jadi Kunci

Sensor canggih ini dibuat menggunakan material dua dimensi bernama tiofosfat bimetalik. Sebelumnya belum pernah dimanfaatkan untuk penginderaan suhu.

Material ini memiliki sifat unik, ion-ion di dalamnya tetap bergerak bebas meskipun dialiri listrik. Dalam dunia semikonduktor, fenomena ini biasanya dihindari karena dapat mengganggu kinerja transistor.

Namun, tim peneliti justru memanfaatkan sifat tersebut. Mereka menggabungkan:

  • Pergerakan ion untuk mendeteksi perubahan suhu
  • Aliran elektron untuk membaca data suhu

Dengan pendekatan ini, sensor mampu bekerja tanpa membutuhkan sirkuit tambahan atau konverter sinyal.

Lebih Hemat Energi

Selain cepat dan kecil, sensor ini juga sangat efisien. Para peneliti menyebutkan teknologi ini dapat mengonsumsi daya hingga 80 kali lebih rendah dibandingkan sensor suhu berbasis silikon konvensional.

Menurut Saptarshi Das, profesor ilmu teknik dan mekanika di Penn State sekaligus penulis utama penelitian, pendekatan ini memanfaatkan sesuatu yang biasanya dihindari dalam industri chip.

“Apa yang biasanya tidak diinginkan dalam transistor justru sangat berguna untuk penginderaan termal. Kami memanfaatkannya untuk keuntungan desain kami,” jelasnya.

Masih Tahap Awal, Tapi Menjanjikan

Meski hasilnya menjanjikan, penelitian ini masih berada pada tahap awal atau proof of concept. Sensor telah berhasil dibuat dan diuji di laboratorium, namun belum diterapkan dalam produksi chip skala industri.

Untuk bisa digunakan secara luas, teknologi ini masih perlu melalui proses validasi dan integrasi oleh produsen semikonduktor.

Meski demikian, spesifikasi yang ditawarkan, mulai dari ukuran ultra-kecil, respons super cepat, hingga efisiensi daya tinggi, dinilai mampu menjawab berbagai tantangan dalam pemantauan suhu pada chip modern.

Jika berhasil dikembangkan lebih lanjut, teknologi ini berpotensi menjadi standar baru dalam desain prosesor masa depan, terutama untuk meningkatkan performa sekaligus menjaga stabilitas perangkat elektronik. (Z-2)