Gangguan Makan pada Remaja Laki-laki Meningkat Tajam, Kenali Gejalanya
SELAMA ini, gangguan makan sering kali dianggap sebagai masalah yang hanya diderita perempuan. Namun, data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan pada laki-laki. Di Amerika Serikat, hampir 7 juta pria tercatat pernah mengalami gangguan makan dalam hidup mereka, dengan masa remaja sebagai periode paling berisiko.
Jonathan Levine, pengawas klinis di Equip Health, mengungkapkan bahwa gejala ini mulai muncul sejak usia 10 tahun dan mencapai puncaknya pada rentang usia 14 hingga 16 tahun. "Umumnya, masa pubertas dan awal masa kuliah adalah waktu di mana anak laki-laki paling berisiko terkena gangguan makan," jelas Levine.
Lonjakan Kasus yang Signifikan
Data dari studi tahun 2023 di Ontario menunjukkan angka yang mengejutkan, kasus rawat inap akibat gangguan makan pada pria muda melonjak hingga 416% antara tahun 2000 hingga 2019. Peningkatan ini sering kali luput dari perhatian karena adanya stigma dan stereotip gender.
Dr. Paul Houser, Direktur Medis program gangguan makan di Dayton Children's Hospital, menyatakan bahwa diagnosis pada laki-laki jauh lebih sulit. "Sedihnya, peningkatan ini tidak mengejutkan saya. Gangguan makan memang sulit dideteksi pada kaum muda secara umum, tetapi hal ini jauh lebih sulit lagi bagi anak laki-laki dan pria muda," ujar Dr. Houser.
Selain anoreksia dan bulimia, muncul kategori baru yang disebut Avoidant Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). Berbeda dengan gangguan makan lain, ARFID tidak didorong oleh citra tubuh, melainkan ketakutan akan konsekuensi makan, seperti takut tersedak, muntah, atau keengganan sensorik terhadap makanan tertentu.
Pengaruh Media Sosial dan Budaya "Superhero"
Ahli menunjuk media sosial sebagai salah satu pemicu utama. Konten singkat di platform seperti TikTok sering kali memuja bentuk tubuh yang tidak realistis. Jika remaja perempuan mendambakan tubuh kurus, remaja laki-laki kini terobsesi pada otot yang besar atau muscle dysmorphia.
Levine menyoroti tren karakter superhero Marvel yang menormalisasi standar tubuh mustahil, perut six-pack dengan kadar lemak tubuh hanya 12%. Paparan terus-menerus ini membuat anak laki-laki merasa diawasi dan dibandingkan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Orangtua diminta waspada terhadap perubahan perilaku berikut:
- Penurunan nafsu makan secara tiba-tiba atau olahraga berlebihan (angkat beban ekstrem).
- Sangat defensif atau marah saat diminta makan lebih banyak.
- Sering membandingkan tubuh dengan orang lain di depan cermin.
- Gejala fisik seperti pusing, rambut rapuh, atau sering merasa kedinginan.
Jika mencurigai adanya masalah, langkah terbaik adalah berbicara langsung tanpa menghakimi. Dr. Houser menyarankan pertanyaan terbuka seperti, "Apa yang kamu lihat di internet tentang bagaimana seharusnya tubuhmu terlihat?"
Levine mengingatkan orang tua untuk tidak menyalahkan diri sendiri. "Sangat mudah untuk terjebak dalam permainan menyalahkan diri sendiri, merasa perkembangan gangguan makan ini adalah kegagalan orang tua, padahal sebenarnya tidak. Saya mendesak orang tua untuk segera bertindak dan tidak mengkhawatirkan alasannya. Alasan itu akan terungkap nanti, yang terpenting, segera cari bantuan," tegasnya. (Parents/Z-2)