Darah Menstruasi Bisa Jadi Sarana Deteksi Dini Kanker Serviks


Penulis:  Thalatie K Yani - 10 February 2026, 12:45 WIB
freepik

METODE skrining kanker serviks di masa depan mungkin tidak lagi memerlukan kunjungan klinik yang tidak nyaman bagi sebagian perempuan. Penelitian terbaru mengungkapkan tes darah menstruasi pionir bisa menjadi cara yang nyaman, non-invasif, dan akurat untuk mendeteksi tanda-tanda penyakit tersebut.

Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal medis BMJ, pembalut perempuan biasa yang dilengkapi strip sampel darah dapat mendeteksi human papillomavirus (HPV), penyebab sebagian besar kasus kanker serviks. Inovasi ini memungkinkan wanita melakukan skrining mandiri secara mandiri di rumah.

Akurasi yang Setara dengan Metode Klinis

Saat ini, skrining serviks umumnya dilakukan tenaga medis menggunakan kuas kecil yang dimasukkan ke dalam vagina. Namun, prosedur ini sering kali menjadi penghambat bagi jutaan perempuan untuk hadir dalam pemeriksaan.

Peneliti di Tiongkok melakukan studi skala besar yang melibatkan 3.068 perempuan berusia 20-54 tahun dengan siklus menstruasi teratur antara tahun 2021 hingga 2025. Hasilnya menunjukkan sampel darah dari pembalut memiliki sensitivitas sebesar 94,7% untuk mendeteksi kelainan sel serviks (CIN2), setara dengan sampel yang diambil langsung dokter (92,1%).

“Hasil studi berbasis komunitas skala besar ini menunjukkan kegunaan penggunaan darah menstruasi yang dikumpulkan melalui minipad untuk pengujian HPV sebagai alternatif standar yang non-invasif atau pengganti skrining kanker serviks,” ungkap para penulis studi tersebut.

Harapan Baru bagi Akses Kesehatan

Sophie Brooks, manajer informasi kesehatan di Cancer Research UK, menyambut baik penelitian ini sebagai langkah untuk membuat skrining lebih mudah diakses.

“Menguji darah menstruasi untuk HPV adalah pendekatan non-invasif yang menarik, dan berpotensi menawarkan pilihan lain di masa depan,” ujar Brooks.

Namun, ia menambahkan penelitian lebih lanjut pada kelompok yang lebih luas dan beragam masih diperlukan untuk memahami efektivitasnya secara menyeluruh.

Xavier Bosch, peneliti emeritus dari Catalan Institute of Oncology yang tidak terlibat dalam studi, menyebut pekerjaan ini "sangat pionir" meskipun masih dalam fase penelitian. Senada dengan itu, Athena Lamnisos, CEO badan amal kanker ginekologi Eve Appeal, menilai metode ini sebagai cara yang "lebih lembut" untuk tes penyelamatan nyawa.

Tantangan ke Depan

Meski menjanjikan, metode ini diakui tidak bisa diterapkan pada semua orang, misalnya perempuan yang sudah memasuki masa menopause. Namun, kehadiran pilihan metode baru diharapkan dapat meruntuhkan hambatan bagi wanita yang selama ini enggan menjalani skrining konvensional.

Dengan akurasi yang kompetitif, darah menstruasi berpotensi mengubah wajah pencegahan kanker serviks menjadi lebih inklusif dan sederhana. (The Guardian/Z-2)