Memasuki Usia ke-47, Budi Luhur University Berkomitmen ke Tingkat Internasional


Penulis: Syarief Oebaidillah - 01 February 2026, 16:48 WIB
Dok Istimewa

MEMASUKI usia ke-47 tahun, Universitas Budi Luhur (UBL) berkomitmen perkuat perannya dalam melahirkan generasi penerus bangsa yang andal dengan menjunjung nilai-nilai kebudiluhuran. Sebagai langkah strategis di tahun 2026, Universitas Budi Luhur memantapkan dan memfokuskan seluruh programnya menuju internasionalisasi.

Upaya ini ditandai dengan peningkatan penjajakan kemitraan di tingkat global, khususnya di kawasan Asia. Dalam konteks internasional, Universitas Budi Luhur kini mengusung nama Budi Luhur University yang disingkat BLU.

BLU digunakan sebagai label internasional dalam berbagai aktivitas dan kerja sama dengan mitra luar negeri. Namun demikian, dalam penulisan resmi dan formal, institusi tetap menggunakan nama Universitas Budi Luhur.

Di sela peresmian logo 47 tahun Universitas Budi Luhur, Jakarta,Sabtu (31/1), Rektor Universitas Budi Luhur, Prof. Agus Setyo Budi, dalam keterangannya menyatakan komitmennya bahwa seluruh program kampus akan diarahkan pada internasionalisasi guna meningkatkan mutu pendidikan.

“Ke depan, semua program muaranya adalah internasionalisasi. Kegiatan seperti seminar dan konferensi akan mengarah ke sana,” ujar Prof. Agus 

Agus yang juga mantan Kepala LLDikti III Jakarta ini mengutarakan mitra-mitra BLU di luar negeri akan terlibat aktif dalam berbagai kolaborasi pendidikan, di antaranya dengan Malaysia, Jepang, Korea, dan Taiwan, 

“Mitra luar negeri akan memanfaatkan kerja sama ini untuk berkolaborasi,  dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun kegiatan akademik lainnya,” jelasnya.

Branding  BLU

Terkait strategi branding, Prof. Agus menjelaskanpenggunaan nama BLU bertujuan untuk memudahkan mitra internasional memahami identitas Universitas Budi Luhur.

“Saat  kami ke  luar negeri, kami menggunakan nama BLU karena penamaan UBL sering membingungkan secara tata bahasa internasional. Namun untuk MoU dan dokumen resmi tetap menggunakan Universitas Budi Luhur,” terangnya.

Dalam kolaborasi penelitian internasional, Universitas Budi Luhur mendorong kerja sama sejak tahap awal, mulai dari penyusunan proposal hingga presentasi bersama. Kolaborasi ini juga melibatkan pertukaran mahasiswa dan dosen.

“Mahasiswa dan dosen kami akan masuk dalam tim mitra luar negeri, begitu pula sebaliknya. Nantinya diramu menjadi konferensi internasional dengan pendanaan bersama,” ungkap Prof. Agus.

Program Berbasis Kualitas

Prof. Agus menegaskan kualitas Universitas Budi Luhur tidak diukur dari besarnya gedung atau luas kampus, melainkan dari kualitas (qualified) program yang dijalankan.

“Orientasi kami adalah kegiatan. Saat mahasiswa lulus, yang ditanya bukan kampusnya sebesar apa, tapi kamu bisa apa. Dari situlah magang dan dunia kerja didekatkan,” paparnya.

Ia menutup dengan menekankan bahwa setiap program harus berdampak langsung  melalui publikasi, penelitian, keterlibatan mahasiswa, hingga kontribusi bagi masyarakat.

“Setiap event harus multi-event dan memberi dampak. Inilah fokus kami membangun pendidikan berbasis pengetahuan dan kualitas,” pungkasnya.

Turut hadir dalam acara tersebut Julian Bongsoikrama, B.A, M.Sc selaku Ketua BPH Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro, MBA, Dr. Deni Mahdiana, MM, M.Kom sDeputi Akademik, Ir. Bullion Dragon Andah, M.Sc., M.Kom selaku Deputi Sumber Daya dan Prof. Dr. Ir. Arief Wibowo, M.Kom  Deputi Kemahasiswaan, Kerjasama & Promosi.
Penutupan kegiatan dilanjutkan ramah tamah dengan makan duren bersama diiringi musik kampus. (H-2)