BTS Mendunia, tapi yang Paling Kaya Tetap Bang Si Hyuk, Kenapa?


Penulis: Intan Safitri - 19 March 2026, 16:52 WIB
Dok. Big Hit Entertaiment

INDUSTRI K-pop kini bukan lagi sekadar soal popularitas artis, melainkan soal siapa yang menguasai saham. Dalam beberapa tahun terakhir, peta kekayaan bergeser tajam ke tangan pemilik perusahaan.

Laporan CXO Institute menempatkan Bang Si Hyuk, pendiri HYBE, kembali sebagai figur terkaya di industri K-culture berbasis saham. Nilai kepemilikan sahamnya diperkirakan mencapai ₩4,8 triliun (sekitar Rp57,6 triliun) per Maret 2026, berasal dari lebih dari 13 juta lembar saham HYBE.

Di bawahnya, jarak terlihat sangat lebar. J.Y. Park tercatat memiliki kekayaan saham sekitar ₩362,7 miliar (Rp4,35 triliun), sementara Yang Hyun Suk sekitar ₩225 miliar (Rp2,7 triliun). Selisih ini menegaskan satu hal: dominasi HYBE masih belum tertandingi.

Saham HYBE Melonjak, Strategi Jadi Penentu

Lonjakan kekayaan Bang Si Hyuk sejalan dengan performa saham HYBE yang agresif. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, sahamnya dilaporkan naik lebih dari 50 persen.

Pertumbuhan ini tidak hanya ditopang musik, tetapi juga strategi ekspansi global dan diversifikasi bisnis. HYBE memperkuat ekosistemnya lewat platform seperti Weverse serta akuisisi internasional, termasuk Ithaca Holdings sejak 2021.

Model bisnis ini membuat HYBE tidak lagi bergantung pada album dan tur, melainkan membangun jaringan pendapatan yang lebih luas dan berkelanjutan.

BTS: Besar Secara Pengaruh, Kecil di Kepemilikan

Di sisi lain, kontribusi BTS terhadap ekonomi HYBE tetap signifikan, namun tidak tercermin dalam kepemilikan saham. Total nilai saham gabungan seluruh member BTS diperkirakan hanya sekitar ₩20 miliar (Rp240 miliar) per 17 Maret 2026.

Sejak September 2023, BTS tidak lagi masuk kategori pemegang saham utama. Konsekuensinya, perubahan kepemilikan mereka tidak wajib dilaporkan secara publik, membuat data yang beredar saat ini bersifat estimasi.

K-Pop Beralih ke Era Korporasi

Data ini menandai pergeseran besar dalam industri K-pop. Jika dulu artis adalah pusat nilai, kini kekayaan terkonsentrasi di level korporasi dan pemegang saham.

Struktur ini lazim dalam perusahaan publik, namun juga membawa risiko. Pada 2025, HYBE sempat diselidiki regulator Korea Selatan terkait dugaan pelanggaran dalam proses IPO.

Belum ada putusan final, tetapi kasus tersebut menegaskan: semakin besar valuasi, semakin ketat pengawasan. (The Korea Times/Digital Music News/Z-10)