PLN EPI Amankan Pasokan Gas 111 Juta MMSCFD dari FID Lapangan Gas Mako
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memastikan pasokan gas sebesar 111 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) selama 10 tahun dari Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja Duyung setelah proyek tersebut resmi mencapai Final Investment Decision (FID).
Keputusan investasi final tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat pasokan energi primer untuk kebutuhan pembangkit listrik, khususnya di wilayah Batam dan Sumatra bagian tengah. Lapangan Gas Mako yang dioperatori oleh West Natuna Exploration Limited berlokasi di lepas pantai Natuna, Kepulauan Riau, dengan kedalaman laut sekitar 80 meter.
Pengumuman FID dilakukan di kantor SKK Migas dan dihadiri sejumlah pejabat serta pemangku kepentingan industri migas, termasuk Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaiman, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Chairman Conrad Asia Energy Ltd Peter Botten, serta CEO Conrad Asia Energy Miltiadis Xynogalas.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan bahwa persetujuan FID menandai kesiapan proyek untuk memasuki tahap konstruksi dan eksekusi penuh.
"Proyek ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan produksi gas nasional sekaligus memastikan pemanfaatan sumber daya Natuna untuk kebutuhan domestik," ujar Djoko.
Ia menjelaskan bahwa proyek Lapangan Mako telah melalui proses panjang sejak penandatanganan Production Sharing Contract (PSC) pada 2007, penemuan gas pada 2017, persetujuan Plan of Development (POD) pada 2019, revisi POD pada 2022, penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) pada 2025, hingga keputusan investasi final pada 2026. Produksi gas dari lapangan tersebut ditargetkan mulai pada 2027.
Perkuat Pasokan Gas untuk Kelistrikan
Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto menyambut baik tercapainya FID Lapangan Mako karena akan memastikan pemenuhan pasokan gas sesuai PJBG yang telah ditandatangani antara PLN EPI dan West Natuna Exploration Limited pada 11 Juli 2025. Menurutnya, kontrak tersebut juga berkaitan dengan penugasan dari Kementerian ESDM kepada PLN melalui PLN EPI untuk membangun dan mengoperasikan pipa gas WNTS–Pemping.
"Pasokan gas dari wilayah Natuna sangat penting untuk memenuhi kebutuhan listrik di Batam dan Sumatra bagian tengah yang terus meningkat," tutur Rakhmad.
Pertumbuhan kebutuhan listrik di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 12%-15% per tahun, dengan sebagian besar pembangkit listrik menggunakan bahan bakar gas. Ia menambahkan bahwa penurunan pasokan gas dari wilayah darat Sumatra membuat suplai gas dari Natuna menjadi semakin penting untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarahwati mengatakan pembangunan pipa gas WNTS–Pemping saat ini terus berjalan sesuai rencana. Proyek tersebut telah melakukan groundbreaking pada 10 Februari 2026 dan ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2026.
Pipa tersebut akan menjadi infrastruktur penting yang menghubungkan pasokan gas dari wilayah Natuna ke sistem kelistrikan Batam.
"Pengembangan infrastruktur gas ini juga sejalan dengan strategi transisi energi nasional yang mendorong pemanfaatan energi yang lebih bersih, efisien, dan berbasis sumber daya domestic," ucap Erma.
Menurutnya, proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional tetapi juga mendukung upaya menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan di masa depan. (E-3)