Investasi Raksasa Sepanjang Sejarah Indonesia-AS, Ini Sektor Bisnisnya


Penulis: Putri Anisa Yuliani - 19 February 2026, 23:35 WIB
Antara

PRESIDEN RI Prabowo Subianto menyaksikan momen bersejarah penandatanganan 11 Nota Kesepahaman (MoU) antara perusahaan Indonesia dan Amerika Serikat. MoU tersebut tercapai dengan nilai fantastis mencapai US$38,4 Miliar (setara Rp650 Triliun). Kesepakatan ini terjadi dalam rangkaian Business Summit yang diinisiasi oleh US-ASEAN Business Council (US-ABC) di Washington DC, Rabu (18/2).

Daftar Sektor Strategis dalam Kerja Sama US-ABC

Kerja sama ini mencakup berbagai sektor vital yang menjadi prioritas pertumbuhan ekonomi nasional, di antaranya:

Sektor Detail Kerja Sama
Mineral Kritis Kolaborasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi dengan Freeport-McMoRan untuk penguatan industri hilirisasi nasional.
Energi & Migas PT Pertamina bersinergi dengan Halliburton untuk optimasi oilfield recovery guna meningkatkan lifting minyak.
Teknologi Tinggi Pengembangan ekosistem semikonduktor melalui joint venture senilai USD 4,89 Miliar antara Galang Bumi Industri dan Essence Global Group.
Ketahanan Pangan Komitmen pengadaan jagung, kedelai, dan gandum antara Cargill dengan mitra strategis di Indonesia.

Dampak bagi Ekonomi Nasional

Presiden Prabowo menegaskan bahwa kesepakatan ini merupakan bukti tingginya kepercayaan investor global terhadap stabilitas dan prospek ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinannya. "Kerja sama ini bukan sekadar angka, tapi tentang menciptakan lapangan kerja dan transfer teknologi bagi rakyat Indonesia," ujar Presiden dalam pidatonya.

Catatan Redaksi: Nilai investasi ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah hubungan bilateral RI-AS, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui target di tahun 2026.

Pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi berkomitmen untuk mengawal realisasi setiap poin dalam MoU tersebut agar segera memberikan dampak konkret bagi perekonomian domestik, terutama dalam memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global di kawasan Indo-Pasifik. (E-4)