Mini LNG Pasuruan Ditargetkan Pangkas Beban Impor Energi


Penulis:  Gana Buana - 14 February 2026, 01:54 WIB
Dok. Jababeka

PEMERINTAH mendorong pemanfaatan energi yang lebih efisien dan rendah emisi di sektor industri melalui pengoperasian pabrik mini liquefied natural gas (LNG) pertama di Pulau Jawa. Fasilitas yang berlokasi di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Jawa Timur, ini diharapkan menjadi solusi substitusi LPG sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Pabrik mini LNG tersebut dioperasikan oleh PT Likuid Nusantara Gas (PT LNG), entitas anak PT Jababeka Tbk (KIJA), dan diresmikan langsung oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung pada Rabu (11/02) lalu. Dalam sambutannya, Yuliot menegaskan bahwa kehadiran fasilitas ini sejalan dengan upaya pemerintah memperluas akses energi bersih dan efisien bagi sektor industri. Ia menyebut kilang ini sebagai mini LNG pertama di Pulau Jawa yang diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan gas domestik untuk kebutuhan industri, pembangkit listrik, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

“Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan gas dalam negeri dan bahkan berpotensi didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia,” ujar Yuliot dilansir, Sabtu (14/2).

Ia menambahkan, pengembangan kilang mini LNG juga dapat menjadi tolok ukur (benchmark) bagi pengembangan infrastruktur energi modular di berbagai daerah. Menurutnya, langkah ini relevan mengingat besarnya beban subsidi LPG nasional yang diperkirakan mencapai Rp87 triliun pada 2025.

Melalui substitusi LPG ke LNG, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan efisiensi anggaran. “Pada akhirnya akan terjadi efisiensi dan dalam jangka panjang masyarakat bisa mendapatkan energi yang cukup dengan harga yang lebih terjangkau,” kata Yuliot.

Apresiasi terhadap proyek ini juga disampaikan Duta Besar Argentina untuk Indonesia, Gustavo Ricardo Coppa. Ia menilai beroperasinya fasilitas mini LNG ini menjadi bukti kolaborasi teknologi antara Indonesia dan Argentina melalui Galileo Technologies.

Menurut Coppa, proyek tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas baru, melainkan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan energi, memperluas pemanfaatan bahan bakar bersih, serta mengembangkan infrastruktur energi modern di negara kepulauan seperti Indonesia. Ia berharap kerja sama kedua negara dapat terus berlanjut dalam jangka panjang.

Secara korporasi, proyek ini dikembangkan melalui skema joint venture. PT Jababeka Infrastruktur—entitas anak KIJA—menguasai 60 persen saham PT LNG, sementara PT Fortius Development Asia dan pemegang saham perorangan masing-masing memiliki 20 persen saham. Total nilai investasi pabrik mini LNG ini mencapai sekitar US$16,9 juta.

Wakil Direktur Utama PT Jababeka Tbk, Budianto Liman, mengatakan fasilitas tersebut merupakan pabrik mini LNG pertama yang dikelola swasta di Pulau Jawa. Ia optimistis kehadiran fasilitas ini dapat mendukung penyediaan energi yang lebih kompetitif dan rendah emisi bagi pelaku industri, khususnya di Jawa dan sekitarnya.

Pabrik yang berdiri di atas lahan sekitar satu hektare ini memiliki kapasitas produksi awal 2,5 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), dengan potensi ekspansi hingga 4 MMSCFD per hari. Fasilitas ini juga diharapkan memperkuat kontribusi bisnis infrastruktur KIJA yang bersifat pendapatan berulang (recurring income), seiring meningkatnya kebutuhan energi industri yang efisien dan ramah lingkungan.

Sementara itu, CEO PT LNG Wira Rahardja menyatakan pihaknya siap mendukung perusahaan yang ingin bertransisi ke energi rendah emisi. Distribusi LNG dilakukan menggunakan armada iso tank berukuran 20 dan 40 kaki untuk melayani kebutuhan konsumen ritel maupun distributor.

“Pada tahap awal operasional, kami telah berhasil menyediakan dan menyalurkan LNG ke wilayah Jawa Timur dan Bali secara andal, baik dari sisi kualitas maupun distribusi,” ujar Wira.

Ia menambahkan, sejumlah konsumen telah merasakan manfaat langsung dari sisi efisiensi biaya energi setelah beralih menggunakan LNG. Saat ini PT LNG telah bekerja sama dengan beberapa pelanggan, termasuk PGN Gagas.

Ke depan, perusahaan menargetkan peningkatan kapasitas produksi menjadi 4 MMSCFD per hari melalui penambahan dua unit mesin pengolahan LNG. Ekspansi tersebut ditargetkan terealisasi pada paruh kedua 2027 guna memenuhi permintaan energi industri yang terus meningkat di Jawa Timur, Bali, dan sekitarnya.

“Dengan kapasitas yang lebih besar, kami optimistis dapat menjangkau lebih banyak konsumen sekaligus memperkuat peran kami dalam mendukung transisi energi di sektor industri,” tutup Wira. (Z-10)