Danantara Groundbreaking 6 Proyek Hilirisasi Fase I Senilai Rp118 Triliun


Penulis: Ihfa Firdausya - 07 February 2026, 07:06 WIB
Antara

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) resmi memulai groundbreaking proyek hilirisasi fase I. Kegiatan groundbreaking untuk enam proyek hilirisasi ini dilaksanakan serentak di 13 lokasi.

Proyek hilirisasi fase pertama ini terdiri dari sejumlah sektor, antara lain energi, pangan, serta mineral dan logam. Lokasinya antara lain di Mempawah (Kalimantan Barat), Banyuwangi (Jawa Timur), Cilacap (Jawa Tengah), Malang (Jawa Timur), dan Gresik (Jawa Timur).

Di Mempawah, ada proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 yang dioperasikan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), serta proyek smelter aluminium, dioperasikan PT Inalum.

Kemudian di Banyuwangi ada ⁠proyek Kilang Bioetanol Glenmore, dioperasikan oleh PTPN dan PT Pertamina (Persero). Di Cilacap ada proyek biorefinery milik PT Pertamina (Persero).

Selanjutnya proyek poultry atau peternakan terintegrasi di Malang dan beberapa lokasi lain, dijalankan oleh PT RNI (Persero) atau ID Food. Terakhir adalah⁠ proyek pabrik garam dan pabrik MVR di Gresik, Manyar, dan Sampang, oleh PT Garam.

CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyebut total investasi dari enam proyek tersebut mencapai US$7 miliar atau sekitar Rp118 triliun.

“Proyek-proyek ini mencakup sektor mineral, energi, dan agroindustri yang merupakan tulang punggung dari transformasi ekonomi nasional ke depannya,” kata Rosan saat memimpin peresmian dari Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (6/2).

Rosan memaparkan kontribusi hilirisasi yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto terus meningkat. Pada 2025, proyek hilirisasi menyumbang kurang lebih 30% dari total investasi yang masuk ke Indonesia.

“Nilainya kurang lebih mencapai Rp584,1 triliun dan peningkatannya dibandingkan tahun sebelumnya adalah 43,3%,” ujarnya.

Pemerintah, kata Rosan, ingin memastikan program hilirisasi tidak hanya memberikan keuntungan yang baik tapi juga berdampak positif kepada penciptaan lapangan pekerjaan, menciptakan nilai tambah, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Bapak Presiden menekankan percepatan proyek-proyek hilirasi yang berdampak langsung bagi ekonomi dan masyarakat,” kata Rosan.

Ia menyebut selama ini hilirisasi cenderung berpusat di dua daerah. Contohnya hilirisasi mineral terutama di Maluku/Maluku Utara dan Sulawesi. Ke depan, katanya, proyek-proyek itu akan lebih tersebar. (E-3)