Video

Filosofi Golok Bagi Pesilat

Golok bagi para pesilat mengandung filosofi sebagai senjata golok itu harus memilik sarung.

"Artinya sarung yang dimaksud itu silat ini harus ada bungkusnya, ada pagarnya yakni keagaaman," ujar Untung P Navis, Sekjen Asosiasi Silat Tradisi Betawi Indonesia (Astrabi)

Keagamaan itu seperti salat dan ngaji yang akan membuat silat lebih aman bagi mereka yang memilikinya.

Ketika silat diaplikasikan tanpa sarung atau tanpa dipagari dengan keagamaan maka akan berakibat fatal, namun sebaliknya silat akan sangat bermanfaat jika dibungkus dengan keagamaan.

Sehingga silat hanya akan digunakaan pada saat dibutuhkan. Selebihnya silat akan menjadi dasar untuk silaturrahmi dan persaudaraan.

"Tajamnya golok bukan berarti golok digunakan secara serampangan," tegas Anwar al Batawi, Ketua Umum Astrabi.

Menurutnya.ketika orang memegang golok dia harus lebih memegang rasa dari dirinya, yakni kemampuan yang dia miliki.

Sementara aplikasi golok dalam silat, tidak semua perguruan silat di Jakarta tidak menjadikan golok bagian dari jurusnya.

"Namun representasi golok bagi pesilat berarti kesiapan mereka untuk mempertahankan diri ataupun membantu sesamanya," tutup Anwar.