Video

Silat Betawi itu Budaya, Harus Dikembangkan

CAHAYA bulan nampak tak begitu terang. Waktu menunjukkan pukul 20:15 WIB. Suasana terlihat sepi, namun sejumlah kendaraan terlihat berjejer tak rapih di halaman salah satu ruangan sekolah SDN 08 Rawa Belong, Jakarta Barat.

Terdengar suara seorang laki-laki sedang menyampaikan ceramah agama dari dalam ruangan. Sesekali terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran sebagai penambah sejuk suasana hati sekitar 50an muda-mudi, yang terlihat serius mendengarkan.

''Pengajian digelar selama satu jam sebelum melakukan latihan pencak silat, supaya semua anggota tidak hanya mendapatkan ilmu silat tetapi juga ilmu agama untuk meningkatkan akhlaknya'', ujar Romi salah satu pelatih Perguruan Silat Cingkrik Rawa Belong (PERCIRA).

Demikian aktifitas rutin yang biasa dilakukan semua anggota PERCIRA saat disambangi Media, Rabu pekan lalu, sebelum mereka memulai latihan pencak silat.

Sekitar 50an muda-mudi beragam usia tersebut terlihat bersemangat usai acara pengajian, Halaman belakang sekolah yang berlantai conblock menjadi tempat berkumpul selanjutnya, latihan silat pun dimulai.

Menurut Guru Besar PERCIRA yang akrab disapa Baba Warno, silat betawi itu bukan hanya persoalan bela diri saja, tetapi juga budaya tradisional masyarakat betawi pada umumnya.

''Masyarakat Betawi maju terus jangan pernah bosan belajar silat, karena ini budaya, jangan pernah ditinggalkan'', kata pria 74 tahun itu.

''Saya harap semakin banyak orang-orang yang mau belajar silat betawi, baik itu warga Jakarta maupun masyarakat dari luar daerah'', tambah Baba Warno.

Baba Warno yang sangat menyukai silat sejak berumur belasan tahun itu adalah pendiri, pelatih sekaligus Guru Besar dari PERCIRA. Saat ini memiliki jumlah murid mencapai 400an orang yang tersebar di wilayah Jakarta Barat. (Muhammad Zen)