Video

Bukan Plastik Biasa

KEVIN Kumala memasukkan plastik berwarna biru langit ke dalam gelas berisi air panas.

Diaduk, dalam 20 detik plastik itu pun larut dalam air dan Kevin dengan santai meminumnya.

Demo yang dilakukan Kevin di Kantor Media Indonesia, Jakarta, pun membuat heran.

"Ini merupakan bioplastik yang semua bahan dasarnya terbuat dari bahan-bahan alami, yakni singkong tanpa bahan kimia sedikit pun, tepatnya sampah yang dihasilkan dari singkong dan kita olah menjadi sebuah plastik yang ramah lingkungan," tutur Kevin, Kamis (30/3).

Pria berusia 32 tahun itu memproduksi plastik yang dapat terurai secara alami tersebut sejak 2014 di bawah perusahaan Avani yang ia dirikan.

Kevin menjelaskan idenya berawal dari kekecewaan kala menyelam di tanah kelahirannya di Bali.

Sampah plastik telah merusak keindahan bawah laut Bali. Dari situ ia bertekad menciptakan plastik yang dapat terurai dengan cepat.

Berbekal ilmu lingkungan sewaktu berkuliah di Amerika Serikat, Kevin pun mulai meriset bahan-bahan alami yang dapat diolah menjadi plastik.

"Awalnya saya sudah mencoba banyak bahan dasar mulai eceng gondok, kulit pisang, kulit manggis, jagung. Namun, karena ujungujungnya terpentok masalah dana, jatuhlah pilihan ke singkong yang harganya murah, menanamnya mudah, dan produksi nasional singkong kita melimpah," papar Kevin.

Pada 2015, Kementerian Pertanian menyebutkan produksi ubi kayu sebesar 21,79 juta ton.

Produksi itu melimpah karena karena banyak industri pengguna tepung tapioka memilih produk impor.

Kevin menjelaskan ia menggunakan ampas singkong dan minyak sayur sebagai bahan utama.

Dengan menggunakan limbah pati singkong, harga pun dapat ditekan.

Bahanbahan itu diproses fisikokimia.

"Jadi setelah menjadi polimer, lalu kita rangkai dan dibentuk menjadi bioplastik ini. Selain bioplastik, kita membuat jas hujan, sedotan, laundry bag, shower cap, dan lainnya," paparnya.

Penggunaan singkong sebagai bahan baku plastik memang bukan hal baru.

Bahkan bioplastik berbahan singkong yang diproduksi skala pabrik setidaknya telah ada sejak 2010 di Indonesia.

Meski begitu, produk-produk tersebut masih menggunakan campuran bahan sintetis.

Hal itu dilakukan terkait dengan biaya produksi.

Plastik yang menggunakan bahan alami memang cenderung lebih mahal daripada plastik konvensional.

Soal harga itu pula yang tampak masih belum dimenangi Kevin.

Satu lembar kantong plastik singkong itu dihargai Rp650, sedangkan kantong plastik konvensional bisa berkisar Rp2.000 untuk 28 lembar.

Meski begitu, dengan luasnya dampak lingkungan limbah plastik, sudah saatnya masyarakat berpikir ulang tentang plastik konvensional.

Bahkan sepatutnya menghindari penggunaan plastik.


60 hari

Terkait dengan proses penguraian, Kevin menjelaskan plastik buatannya dapat terurai secara alami di tanah.

"Kalau didaur di dalam tanah, hanya butuh waktu sekitar 60 hari untuk kembali menjadi kompos. Masyarakat juga bisa menggabungkan dengan jagung, singkong, ataupun benih lain lalu disiram selama 60 hari yang nantinya akan tumbuh bersama plastik tersebut," kata Kevin.

Sementara itu, Kevin juga menjelaskan tidak perlu takut akan terjadi penimbunan sampah plastik jika produk ciptaannya itu terdampar sampai ke laut.

Dalam waktu selama 60-140 hari, bioplastik akan hancur dengan sendirinya dan menjadi makanan ikan.

"Jadi ikan yang memakan sisa-sisa bioplastik tidak akan mati karena yang ikan-ikan makan itu adalah bahan nabati yang sangat aman untuk dimakan. Jangankan ikan, saya saja bisa minum sisa plastik tadi," tuturnya.

Atas inovasi yang sudah diciptakan Kevin, beberapa perusahaan serta negara lain pun mulai melirik produk buatan Avani tersebut.

Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor produk Avani adalah Australia, Amerika, Ruwanda, Kenya, Tanzania, dan Ghana.

"Negara-negara Afrika yang dikira banyak orang itu negara kumuh dan tidak memperhatikan lingkungan. Namun justru semua itu kebalikan, justru negara yang pesan plastik kita itu begitu menjaga lingkungannya dengan meresistensi segala produk berbahan plastik," tutupnya. (Rio/M-3)