Video

Nafas Seni di Ruang Publik Auckland

Seni adalah upaya untuk menciptakan dunia yang lebih manusiawi.Begitu pendapat Andre Maurois, penulis Prancis.

Seni tidak jarang dianggap sebagai suatu hal yang ekslusif. Berjarak dari kehidupan sehari-hari. Padahal, tidak mesti begitu. Seni dapat dengan mudah ditemui, menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Kondisi itu tecermin pada ruang-ruang publik sentra Auckland di Selandia Baru. Selayaknya galeri, berbagai sisi Auckland menjelma ajang pamer karya atau kegiatan seniman. Mulai dari patung-patung di taman, sampai mural di dinding gedung.

Dari pengamatannya selama tiga pekan di Selandia Baru, pegiat budaya Dwiki Nugroho mengemukakan, seperti kebanyakan kota-kota urban negara maju, Auckland memperlihatkan tata kota yang rapi nan terstuktur. Karya-karya seni yang ada di ruang publik pun, menurut kurator dari Serbuk Kayu Collective itu, punya gengsi tersendiri.

Survei Creative New Zealand juga menunjukkan kedekatan relasi seni dengan publik. Dari survei badan otonom itu di 2014, 82% penduduk usia dewasa memandang seni sebagai hal yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat Negeri Kiwi.

Mungkin sebagian orang beranggapan itu lantaran Selandia Baru terbilang negara maju yang sudah selesai dengan persoalan dasar pangan, papan, dan sandang. Data Bank Dunia, pendapatan per kapita di Selandia Baru pada 2015 sudah sekitar US$37 ribu, sementara Indonesia baru sekitar US$3.400 saja.

Namun, jika kembali ke pernyataan Maurois, haruskah menunggu perut kenyang untuk mendorong seni? Untuk menciptakan dunia yang lebih manusiawi?