Makan Siang Sedap nan Murah ala Aplikasi

Penulis: Media Indonesia Pada: Kamis, 22 Mar 2018, 10:00 WIB VIDEO

WARGA urban selalu dipacu serbacepat, termasuk saat makan siang. Lazimnya pekerja hanya diberi waktu 1 jam untuk istirahat dan makan siang. Tentunya waktu semakin sempit dikurangi antre di lift, menunggu bangku kosong di restoran, serta menembus lalu lintas.

Maka, beranjak ke luar kantor buat berburu makan siang yang harganya juga terbilang mahal, sekitar Rp60 ribu-Rp70 ribuan untuk sekali makan di restoran, tentu tak efisien. Masalah itulah yang kemudian dipecahkan Kulina.

"Ide awalnya, masalah konsumen, harga makan siang yang proper Rp 60ribu-Rp 70ribu, padahal gaji mereka rata-rata Rp5 juta- Rp7 jutaan. Artinya, satu kali makan siang bisa menghabiskan 1% gaji mereka, ini mungkin terkesan lazim, tapi kalau dibandingkan Jepang atau Singapura yang gajinya 5 kali lipat Jakarta, harga makan siangnya tidak berbeda jauh dengan Jakarta," ujar CEO dan salah satu pendiri Kulina, Fajar Handika saat ditemui Media Indonesia di kantornya di Jakarta, Selasa (13/3).

Diluncurkan pada 2016, Kulina mengisi kesenjangan harga makan siang dengan rata-rata gaji pekerja Jakarta.

"Temuan lainnya, dari sisi produsen, yang dalam hal ini dapur mitra kami, para pengusaha catering, biasanya hanya mendapatkan pesanan di akhir pekan seperti acara pernikahan. Di hari kerja, mereka cenderung sepi pesanan, padahal mereka memiliki karyawan yang dapat diberdayakan dan harus dibayar," kata pria yang akrab disapa Andy.(Rizky Noor Alam)

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More