Kalijodo, Alexis, Malioboro

Penulis: Media Indonesia Pada: Selasa, 23 Feb 2016, 19:39 WIB Spektrum
Kalijodo, Alexis, Malioboro

Jika saya sebutkan tiga nama tempat di atas, publik pasti lebih akrab dengan Kalijodo. Itu ihwal yang masuk akal. Saat ini, lokasi prostitusi di pinggiran Kali Angke itu tengah memasuki epilog yang pahit. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alis Ahok-lah sutradara di balik epilog pahit itu.

Atas nama penertiban, Ahok dengan berani mengakhiri riwayat panjang Kalijodo.
Di tangannya, kisah 'kejayaan' Kalijodo dipaksa memasuki episode akhir. Dalam hitungan hari, tak akan ada lagi Kalijodo yang membawa cerita asmara perempuan Betawi dengan saudagar Tionghoa pada abad ke-18. Tak ada pula Kalijodo yang muasalnya di era kemerdekaan sebagai tempat muda-mudi mendayung sampan menyusuri Kali Angke untuk mencari jodoh.

Arena pelepasan syahwat yang beroperasi sejak 1970 itu tak lama lagi akan menjadi jejak sejarah Jakarta. Tak ada lagi gemuruh seperti dulu. Suara tawa dan rayuan perempuan-perempuan penjaja cinta hanyalah ngiang yang segera hilang. Tak ada lagi cerita kehebatan para jagoan dan preman yang akan melawan penertiban. Apalagi, rencana unjuk rasa bugil bersama demi mempertahankan kehidupan. Semua berjalan lancar-lancar saja.

Benteng pertahanan Kalijodo dalam hitungan hari akan runtuh digempur alat-alat berat aparat. Bilik-bilik cintanya akan rata dengan tanah. Lalu, bersalin rupa dengan taman kota yang hijau tempat burung berkicau. Inilah bukti pemerintah telah memperlihatkan keberadaannya. Pemprov DKI Jakarta melalui keberanian Ahok berkukuh mengembalikan fungsi Kalijodo sebagai ruang terbuka hijau.

Babak penutup lakon Kalijodo itu telah menjadi drama verbal dan visual yang dinikmati oleh khalayak. Dua pekan lebih imaji-imaji Kalijodo menghiasi televisi, media cetak, media daring, ataupun media sosial. Jejak visual itu menyebar kabar kepada publik tentang sirnanya sebuah kehidupan. Selain itu, memberi tahu adanya pembiaran (selama hampir setengah abad) terhadap sebuah pelanggaran.

Hari-hari ini, kisah Kalijodo mendominasi pemberitaan di beragam platform media. Ada kisah nestapa para pekerja seks komersial (PSK) yang kehilangan sumber nafkah. Pula, ada cerita mengapa hanya Kalijodo yang 'dibereskan'.

Lantas, apa kaitannya dengan Alexis dan Malioboro? Kedua tempat itu belakangan juga kerap disebut dalam perbincangan tentang Kalijodo. Alexis ialah hotel mewah di kawasan Ancol, Jakarta Utara, yang mengibarkan konsep hiburan untuk orang dewasa. Ahok bahkan menganalogikan hotel itu sebagai surga dunia. Di depan para wartawan ia mengatakan, "Di Alexis, surga itu bukan di telapak kaki ibu lo, melainkan di lantai 7." Metafora Ahok itu menyebar di berbagai media daring dan menjadi viral yang meramaikan linimasa.

Lalu, bagaimana dengan Malioboro? Bukankah Malioboro ialah nama jalan yang menjadi kawasan wisata andalan di Yogyakarta?

Malioboro yang dimaksud ialah Malioboro Hotel & Spa, sebuah hotel di Jalan Gajah Mada, Jakarta. Hotel tersebut diduga menawarkan hiburan untuk urusan syahwat laki-laki dewasa. Nama Malioboro mencuat ketika Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana (Lulung) mengutarakan bahwa ada praktik prostitusi di hotel tersebut. Lulung menantang Ahok untuk tidak hanya menertibkan Kalijodo, tetapi juga Alexis dan Malioboro.

Dalam konteks ini, publik tentu berharap mendapatkan jawaban dari kesaksian para pemburu berita. Kesaksian tentang benar tidaknya praktik pelacuran di kedua hotel mewah itu. Termasuk, kesaksian terhadap puluhan bahkan lebih dari seratusan hotel lain di Ibu Kota yang diduga menjalankan praktik serupa. Melalui karya verbal, visual, ataupun audio visual, para jurnalis sejatinya berkepentingan untuk memberitakan sekaligus mengingatkan bahwa pelanggaran di mana pun tempat tidak boleh dibiarkan. Bagi seorang jurnalis, fakta-fakta terang, remang-remang, bahkan gelap sekalipun merupakan tantangan di ladang liputan.

Selain itu, jika alasan penertiban Kalijodo untuk mengembalikan fungsi ruang terbuka hijau (RTH), jurnalis juga patut mengingatkan Ahok. Apalagi ia mengakui masih ada sekitar 80 persen RTH yang diserobot dan diduduki warga. Kenyataan itu tak boleh dipendam, karena bagi kaum jurnalis mengungkap dan memberitakan berdasar pada kenyataan ialah sebuah keniscayaan. (Hariyanto)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More