Orang-Orang Istimewa

Penulis: Media Indonesia Pada: Senin, 23 Mar 2015, 19:20 WIB Spektrum
Orang-Orang Istimewa

Ed Zoelverdi memotret dramawan WS Rendra di Yogyakarta, 1971. Dok.pribadi Ed Zoelverdi

SEBUAH perjalanan lazimnya tiba pada satu tujuan. Selesai ketika bertemu ujung. Demikian pula perjalanan tentang kehidupan, ia pasti berhenti pada terminal terakhir bernama kematian. Ingatan tentang kematian itu pula yang membawa saya ke hadirnya perjumpaan di masa silam. Perjumpaan yang membangkitkan hasrat pada perubahan.

Toh, akhirnya kematian memang benar-benar memisahkan. Namun, kematian itu tak memutus warisan penting saat perjumpaan demi perjumpaan, termasuk perjumpaan dengan tiga orang istimewa belasan tahun silam. Benar kata penyair Italia Cesare Pavese, ''We don't remember days; we remember moments.''

Tiga sosok istimewa di jagat fotografi itu kini telah tiada. Namun, bagi saya mereka belumlah finis pada demarkasi tujuan. Mereka masih hidup dalam denyut nadi foto jurnalistik negeri ini. Mereka menyemai virus yang menumbuhsuburkan kreativitas tanpa batas.

Mereka ialah teman, sahabat, sekaligus guru saya: Ed Zoelverdi, Julian Sihombing, dan Zaenal Effendy.

Ed Zoelverdi ialah orang pertama yang menyadarkan saya bahwa hidup harus bergairah jika ingin mencatat sejarah. Momen itu berawal pada suatu sore awal 1991-an, di tempat saya bekerja, toko cuci cetak foto di kawasan Menteng, Jakarta. Sosok jangkung yang kerap berbaju safari warna gelap dengan kantong pulpen di lengan kiri itu boleh dibilang menjadi magnet bagi orang-orang di sekelilingnya. Setiap menunggu selesainya proses cuci cetak foto, Pak Ed, biasa kami memanggilnya, selalu dikerumuni mereka yang ingin menimba ilmu fotografi padanya, termasuk saya.

Masa itu nama Ed Zoelverdi sudah cukup kondang di kalangan insan pers Indonesia. Ia redaktur foto majalah Tempo dan penulis buku bertitel Mat Kodak, Melihat untuk Sejuta Mata (Grafitipers, 1985). Buku itu kelak (2014) dimasukkan harian Media Indonesia sebagai satu dari 45 buku yang memengaruhi Indonesia. Karya yang membahas seluk-beluk jurnalisme visual secara rinci itu menjadi 'kitab suci' bagi wartawan, terutama wartawan foto. Hingga akhirnya Mat Kodak menjadi istilah populer untuk menyebut profesi juru foto.

Idiom Mat Kodak berasal dari diksi mat yang berarti panggilan untuk remaja di kalangan masyarakat Melayu. Kodak ialah produsen film negatif yang kini tinggal nama, tersapu oleh gelombang tsunami teknologi fotografi. Sebuah revolusi yang perlahan tapi pasti 'mendegradasi' kejujuran sebagian fotografer.

Membaca Mat Kodak seolah membaca jiwa Pak Ed yang sesungguhnya. Jiwa yang akrab dengan detail, tanpa basa-basi, tegas, cerdas, tetapi jenaka. Ketegasan Pak Ed itulah yang pernah membuat saya hampir putus asa ketika ia membanting foto-foto yang saya abadikan sambil berkata, ''Jelek semua. Foto ente gak ada nyawanya.''

Sepekan sebelumnya ia meminta saya untuk memotret apa saja ketika saya menyatakan keinginan belajar memotret kepadanya. Kata-kata pedas itu sempat melukai perasan selama dua pekan hingga akhirnya saya tersadar dan mampu membuktikan kepadanya bahwa foto yang saya abadikan memiliki kekuatan.

Pak Ed pergi untuk selamanya dalam usia 68 tahun, pada Rabu dini hari, 4 Januari 2012. Hingga usia senja, sebelum sakit paru-paru akut menderanya, ia masih mengabdikan diri menabur ilmu fotografi untuk para jurnalis dan mahasiswa.

Orang istimewa kedua bernama Julian Sihombing. Julian juga bukan nama yang asing bagi jurnalis foto Tanah Air. Salah satu karya monumentalnya ialah potret tentang seorang mahasiswi Trisakti yang terkapar di jalan raya dengan latar belakang para polisi antihuru-hara yang berlarian pada Mei 1998, menjadi pemicu bangkitnya perlawanan pada rezim Orde Baru. Harian Kompas tentu sangat bangga pernah memiliki editor dan jurnalis foto sekaliber dia.

Julian konsisten dengan karya-karyanya yang memberikan kesaksian dalam makna sebenarnya, tanpa rekayasa. Ia mampu meramu fakta dalam bentuk visual yang artistik, jujur, dan menyentuh. Di antara segudang alasan dan setumpuk kepentingan yang kerap 'menggoda' kredibilitas jurnalis foto untuk culas, ia tetap teguh mengimani idealisme.

Julian ialah patron bagi barisan pewarta foto, tak terkecuali saya. Belasan tahun berinteraksi dengannya membuat saya setidaknya bisa belajar bagaimana memotret dari perspektif yang tidak biasa. ''Fotografer itu harus kaya ilmu, paham banyak persoalan,'' katanya suatu ketika.

Sebuah kalimat yang ternyata menjadi pesan terakhirnya kepada saya. Ketika kanker getah bening sudah mulai menggerogoti tubuhnya, Julian pun menyerah hingga akhirnya menutup mata selama-lamanya pada Minggu (14/10/2012) dini hari di National University Hospital, Singapura, dalam usia 53 tahun.

Sebelum episode akhir hayatnya, Julian telah menerbitkan buku fotografi bermutu Split Moment, Split Second (Gramedia, 224 halaman, 2010). Buku yang tidak saja menjadi jejak kariernya sebagai pewarta foto jempolan, tetapi juga mengalirkan energi positif bagi berkembangnya jurnalisme foto di Bumi Nusantara.

Manusia istimewa ketiga ialah Zaenal Effendy, redaktur foto tabloid Bola, tempat saya bernaung bersama majalah Raket 18 tahun lalu. Mas ZE, begitu ia biasa disapa, tidak hanya menularkan ilmu bagaimana memotret olahraga yang baik, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan, bagaimana bersikap, berkomunikasi, bertingkah laku, dan membangun kepercayaan diri.

Bagi saya, Mas ZE ialah guru memotret sekaligus guru kehidupan. Ia tidak sekadar menyampaikan himpunan petuah, tetapi juga menjalankannya dalam laku kehidupannya. Setiap pitutur (nasihat) disampaikannya dengan penuh semangat dan jenaka. Jauh dari kesan menggurui.

Karier Mas ZE sebagai wartawan foto terbilang cemerlang. Semasa hidup ia dikenal sebagai fotografer yang tak mengenal kata menyerah dalam kamus profesionalismenya. Ia juga mahir menaklukkan subjek foto dan selalu meninggalkan kesan menyenangkan. Deretan penghargaan bergengsi pun pernah diraihnya, antara lain World Press Photo 1978 dan Adinegoro 1976.

Mas ZE juga bersetia pada profesi. Hingga berpulang pada Kamis, 12 Februari 2015 dalam usia 65 tahun, ia masih mengabdikan diri dengan membantu pendokumentasian foto-foto milik Kompas, tempat kerjanya semasa remaja.

Kini, Ed Zoelverdi, Julian Sihombing, dan Zaenal Effendy telah tiada. Raga mereka memang terpendam di tanah makam. Namun, karya dan teladan mereka tak akan hilang oleh zaman. Sama seperti yang pernah dilakukan pendahulu mereka: Alex Mendur, Frans Mendur, dan Kartono Riyadi.

Untuk mereka, para penghidup roh fotografi jurnalistik Indonesia itu, mari kita taburkan doa. (Hariyanto)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More