Pesan tak Sampai

Penulis: Media Indonesia Pada: Senin, 30 Mar 2015, 19:16 WIB Spektrum
Pesan tak Sampai

MI/Usman Iskandar

SEORANG sahabat bercerita, ketika masa SMA dirinya pernah menuliskan bait-bait puisi untuk idaman hati. Sayangnya masa itu ia tidak punya cukup keberanian mengirimkan ungkapan perasan kepada sang pujaan. Hingga hari-hari ini puisi yang dituliskannya dalam secarik kertas itu masih tersimpan rapi. Menjadi bukti kata-kata indah yang tidak pernah menunjukkan kesaktiannya. Lebih dari 20 tahun diam dalam ketidakabadian. Menjadi saksi pesan yang tak tersampaikan.

Sebuah pesan tak akan menemukan maknanya jika tak ada penerimanya. Pesan juga akan sia-sia belaka jika tak dapat dimengerti. Keduanya sama-sama hampa.

Tulisan kali ini tentu bukan untuk mengajak bernostalgia pada kisah cinta yang tak berbalas, melainkan ingin membedah bagaimana menyampaikan pesan agar tiba pada tujuan. Diterima tanpa distorsi. Pesan dapat disampaikan lewat banyak medium. Salah satunya melalui fotografi. Dengan menggunakan foto sebagai medium komunikasi, para pembuatnya dapat menceritakan perasaan, gagasan, dan informasi apa yang ingin mereka sampaikan.

Dalam konteks foto berita pesan memegang peranan utama. Di tangan jurnalis foto yang 'putih' pesan secuplik fakta bisa menjadi kekuatan yang menggerakkan, menginspirasi, dan menawarkan harapan. Sebaliknya, pewarta foto yang 'hitam' akan menodai kesucian fakta, memanipulasi, dan bahkan merekayasanya demi kepentingan pribadi.

Lalu, bagaimana dengan pewarta foto yang 'abu-abu'? Masuk ke golongan manakah mereka? 'Abu-abu' adalah wilayah yang tidak jelas. Tidak hitam juga tidak putih. Ada, tapi sebenarnya tidak ada. Pesan yang ingin disampaikan pewarta foto golongan itu mengambang. Susah untuk dimafhumi.

Mengapa ada pesan yang tak tersampaikan dalam foto berita? Kodrat karya fotografi yang tidak memiliki alat ukur bagus tidaknya tersebut membuka peluang membingungkan penikmatnya. Oleh sebab itu, pewarta foto maupun editornya wajib menggunakan `bahasa` yang sama. Lugas, tegas, dan segera bisa dipahami segenap lapisan pembaca.

Itulah yang menghadirkan tantangan sekaligus godaan bagi para pengibar jurnalisme foto. Mereka harus menyadari bahwa pemaknaan sebuah foto sangat bergantung pada perspektif, tingkat pendidikan, umur, dan latar belakang para penikmatnya. Mereka juga tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa yang mengonsumsi foto berita itu berasal dari beragam kalangan. Bukan hanya dari kelompok jurnalis foto atau pehobi fotografi.

Dalam praktik kerja sehari-hari tak jarang seorang editor foto gagal memahami hasil karya fotografer yang bertugas di medan liputan. Duh, kalau editor foto saja tidak mampu memahami karya seorang fotografer, bisa kita bayangkan bagaimana kesulitan pembaca yang umumnya awam fotografi.

Sebaliknya, sering pula seorang pewarta foto mengeluhkan kinerja editor yang dianggapnya tidak mumpuni. Menyunting foto secara serampangan sehingga mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Pada kasus ini kepentingan desain halaman dan pemasang iklan menjadi alasan yang sering dikemukakan. Jika kerap terjadi, hubungan yang disharmoni itu bisa berdampak signifikan pada penurunan kualitas foto-foto yang ditayangkan. Ujungnya kepentingan para pembacalah yang dikorbankan.

Membicarakan peran fotografer lazimnya memang tidak terlepas dari kapabilitas editornya. Keduanya menjadi kesatuan yang saling menguatkan. Kehebatan seorang pewarta foto akan mencerminkan kepiawaian editor di belakangnya. Demikian pula sebaliknya, di balik kehebatan seorang editor dalam menayangkan foto pasti ada kiprah istimewa para fotografer di lapangan.

Spirit kebersamaan itulah yang patut dibangun keduanya. Tidak ada satu pun yang boleh memonopoli kebenaran. Masing-masing ialah kunci bagi terang-buramnya potret besar jurnalisme visual sebuah penerbitan. Jika komunikasi keduanya tersumbat, pesan yang ingin disampaikan berpotensi menemui hambatan untuk sampai pada tujuan.

Apabila ketersumbatanan dibiarkan, akan bertambah banyak saja jumlah fotografer yang mengenakan kaus bertuliskan 'I hate my photo editor' sebagai ekspresi kekecewaan. Kaus hasil olah kreativitas seorang fotografer, Santirta Martendano, pada pertengahan 2010 itu hingga kini ternyata masih diminati sejawatnya.

Alangkah eloknya jika kelak ada pula jurnalis foto yang mengenakan kaus bertuliskan 'I love my photo editor' atau editor yang berkaus 'I love my photographer' sebagai pertanda keharmonisan hubungan keduanya. Semoga....(Hariyanto)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More