Jalan Kehidupan

Penulis: Media Indonesia Pada: Senin, 06 Apr 2015, 18:07 WIB Spektrum
Jalan Kehidupan
MI/Imanuel Antonius
Fotografi jurnalistik masa kini kian menghadirkan tantangan bagi para pelakunya. Revolusi teknologi digital membuat pesona fotografi bertambah menggoda banyak orang. Memotret menjadi begitu mudah. Kemudahan itu berkat melesatnya teknologi fotografi dan perangkat pendukungnya. Produsen kamera, mulai DSLR, digital pocket, prosumer, hingga kamera ponsel pintar, berlomba menciptakan kamera yang dilengkapi beragam fasilitas dan mudah dioperasikan. Peranti editing foto pun kian berjibun. Tinggal memilih mana yang layak kita gunakan untuk menyebarluaskan kesaksian.

Kondisi itulah yang menggairahkan banyak orang untuk mengakrabi fotografi. Tanpa disadari, perlahan tapi pasti keberadaan mereka menggerus sedikit demi sedikit peluang milik para fotografer, termasuk jurnalis foto. Pemotretan yang mestinya 'jatah' fotografer kini banyak dikerjakan sendiri oleh pemilik pekerjaan itu. Liputan yang eloknya tugas seorang pewarta foto saat ini banyak dilakukan pewarta tulis. Itulah paradoks yang tak terelakkan.

Gejala seperti itu sepantasnya dimaknai barisan jurnalis foto sebagai pemicu untuk terus 'memperkaya' diri. Meningkatkan kepiawaian dalam bidang fotografi, melengkapi diri dengan kemampuan menulis layaknya jurnalis tulis, dan siap dengan platform videografi. Jangan sampai terjebak pada zona nyaman, menjalankan pekerjaan hanya untuk menggugurkan kewajiban. Business as usual. Jika seorang jurnalis foto gagal membaca perubahan zaman, kariernya akan berujung mengenaskan, terlindas oleh perubahan itu sendiri. Ia tidak akan menjadi orang pilihan, bahkan bukan tidak mungkin akan disingkirkan.

Kian kuatnya tanda-tanda terpinggirkannya peran fotografer dapat dilihat dari apa yang dilakukan manajemen Sports Illustrated. Majalah berita terkemuka terbitan Amerika Serikat itu pada Maret 2015 efektif memensiundinikan enam fotografer staf mereka, termasuk Simon Bruty, satu dari 50 fotografer olahraga terhebat sejagat, yang telah mengabdi selama puluhan tahun. Nama kondang para fotografer itu di belantara dunia fotografi olahraga tidak mampu menyelamatkan karier mereka dari pemutusan hubungan kerja berdalih restrukturisasi.

Hal serupa, bahkan lebih ekstrem, pernah dilakukan harian ternama dari 'Negeri Paman Sam', Chicago Sun Times. Koran bertiras sekitar 400 ribu eksemplar per hari itu pada 30 Mei 2013 memberhentikan 28 fotografer tetapnya, termasuk pemenang Pulitzer, John White. Pengelola koran itu berpaling pada mobile photography, membekali para reporter dengan Iphone 5 untuk menggantikan peran fotografer. Sebuah keputusan yang terkesan nekat, tetapi pasti telah melewati pertimbangan yang matang.

Lantas, apa hikmah yang bisa kita petik dari dua contoh itu? Kabar pahit dari dua media besar tersebut layak menjadi perangsang bagi jurnalis foto untuk segera memperbaiki dan meningkatkan potensi diri. Selalu mengasah kreativitas, sensitivitas, dan selalu mengedepankan militansi demi menuai hasil terbaik. Kehebatan seorang fotografer dapat ditandai dari kemampuannya menghadirkan potongan dunia dalam selembar foto lalu meninggalkan ingatan yang mendalam bagi siapa saja yang melihatnya. Imaji semacam itu jelas bukan buah karya fotografer yang biasa saja.

Jurnalis foto hari-hari ini tidak boleh bertumpu pada penglihatan dan kecanggihan kamera semata. Ia juga harus kaya dengan memori visual dan memiliki sensitivitas terhadap situasi sekeliling. Selain itu, tak pernah alpa melakukan pravisualisasi sebelum memotret dan mampu menaklukkan setiap hambatan di lapangan. Bekal itulah yang akan memberi nyawa segenap organ jurnalis foto jika ingin mewartakan fakta secara elegan dan menggerakkan.

Jika profesi sebagai jurnalis foto telah menjadi pilihan, jalankanlah dengan penuh kegairahan dan kecerdasan. Mengapa? Lantaran tanpa keduanya, karya yang dihasilkan akan menjemukan, tidak punya kekuatan. Bukankah napas fotografi jurnalistik ialah kegairahan dan kecerdasan berkreativitas? Oleh sebab itu, gali terus potensi diri dan jangan pernah anti terhadap kritik. Sejatinya kritik ialah obat mujarab penjaga kehidupan. (Hariyanto)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More