Pasemon

Penulis: Media Indonesia Pada: Senin, 13 Apr 2015, 18:05 WIB Spektrum
Pasemon

Pengabdian Untung, 45, guru Madrasah Ibtidaiah Miftahul Ulum, Batang Batang, Sumenep, Jawa Timur, Selasa (24/3).MI/M Ghozi

Kemarin malam selepas tenggat saya berdialog santai bersama penulis Pigura di Media Indonesia, Ono Sarwono. Dalam dialog yang konstruktif itu kami melebur ketika memaknai dunia masing-masing. Sang penulis kolom khusus jagat perwayangan pada konteks kekinian itu berkata bahwa ia selalu berusaha memberi bobot pesan moral dalam tiap-tiap tulisannya. Pesan moral yang diusung dalam bentuk pasemon. Dirinya berkeyakinan pasemon memiliki kekuatan untuk mengubah seseorang dan keadaan.

Dalam kultur Jawa, pasemon ialah langgam beradab ketika seseorang menyampaikan kritik atau sindiran kepada orang lain. Mengoreksi tanpa menggoreskan luka. Pasemon terasa lebih elok karena menyentuh sisi nurani. Menggugah budi pekerti. Sejalan pula dengan konsepsi menang tanpa ngasorake, menang tanpa membuat lawan merasa dikalahkan.

Lalu, apa relevansi antara pasemon dan foto jurnalistik? Bagaimana bisa sebuah pasemon meretas ruang-ruang jurnalisme visual? Sebagai karya universal, foto jurnalistik sejatinya mempunyai kekuatan linuwih. Bukan fakta saja yang dikabarkan, melainkan juga menjadi media kontrol jalannya kehidupan. Sebagai penjaga peradaban. Pada fase itu pasemon mengambil peran. Ia dilahirkan mereka yang sadar bahwa kehidupan tidak boleh asal-asalan.

Dalam wilayah individu, pasemon memacar terang pada pribadi-pribadi yang menginspirasi. Salah satunya dapat kita maknai dari teladan yang ditunjukkan Untung, 45, guru honorer madrasah ibtidaiah di Sumenep, Jawa Timur. Ketiadaan dua tangan tidak menghalangi pengabdiannya pada dunia pendidikan. Gaji Rp300 ribu per bulan tidak menyurutkan tekadnya. Kisah heroisme dan fakta visual guru yang mengajar dan beraktivitas dengan kedua kakinya itu dapat dibaca di Media Indonesia edisi Rabu (1/4).

Pada konteks yang lebih luas tengoklah tingkah polah anggota dewan di kompleks gedung parlemen, Senayan, Jakarta. Di gedung tempat berbakti untuk rakyat itu tak sulit bagi kita untuk menjumpai wakil rakyat yang asyik dengan urusan sendiri. Pada satu kesempatan mereka terlelap ketika rapat. Di kesempatan lain terlihat sibuk dengan gadget di genggaman. Bahkan ada pula yang tertangkap kamera menikmati film porno ketika rapat paripurna. Aksi premanisme pun hingga kini belumlah sirna. Kursi-kursi melompong yang ditinggalkan para pemilik saat sidang paripurna menjadi pemandangan yang biasa.

Bagi pemilik nurani, pada galibnya, fakta visual yang telah terpampang berulang di halaman koran dan layar media daring itu merupakan deretan gambaran pasemon. Menjadi arsip visual yang mengingatkan. Sebaliknya, bagi wakil rakyat empunya nurani yang tumpul, pasemon itu membentur kukuhnya benteng tabiat. Ia gagal menunaikan tugasnya. Menjadi pasemon sunyi.

Pasemon foto acap pula dialamatkan kepada para penyemai suburnya korupsi di negeri ini. Mengirimkan pesan ironi makin mengguritanya korupsi. Fakta tertangkapnya orang-orang muda sebagai pelaku korupsi menjadi isyarat keberhasilan regenerasi koruptor. Laku lancung itu kini tidak dilakukan sendiri-sendiri. Dengan kekuasaan sebagai penyelenggara negara, bapak anak, suami istri, kakak adik, menantu mertua, dan atasan bawahan telah menunjukkan kekompakan dalam menggangsir uang negara. Benteng terakhir keadilan dan penjaga gerbang nilai-nilai keagamaan di negeri ini pun terjerat tindak pidana korupsi. Sungguh anomali.

Potret kemiskinan dan dalamnya jurang ketimpangan di sekitar kita merupakan pasemon yang sering pula dikemukakan. Kemewahan si kaya dan keterpurukan si miskin menyatu dalam satu bingkai. Gambaran kontrasnya kehidupan tecermin pula pada fakta perjuangan anak-anak Indonesia kala menuju sekolah. Mereka bertaruh nyawa meniti jembatan rusak dengan derasnya arus sungai di bawahnya demi menggapai cita-cita. Selain itu, ada tunas-tunas muda yang belajar di dalam ruang kelas yang berantakan. Fakta-fakta itu tentu saja sebagai pengingat kepada penguasa agar tidak lalai pada kewajibannya.

Begitu pula halnya dengan imaji manusia-manusia beratribut serbahitam yang saban Kamis sore menggelar perkabungan di seberang istana. Sejak kali pertama beraksi pada 18 Januari 2007, mereka tak pernah alpa mengetuk hati penguasa. Meminta penuntasan kasus Munir, penghilangan paksa, dan kasus HAM lainnya. Entah, hingga berapa Kamis lagi aksi itu mampu membuka pintu hati sang penguasa. Bukan cuma itu, potret pasemon juga kerap menyasar pemerintah. Mengingatkan negara agar tidak absen mengurus keberagaman. Tidak menoleransi perilaku intoleran.

Lantas, efektifkah pasemon dalam jurnalisme foto? Jawabannya pasti iya, bagi mereka yang masih memiliki nurani dan keluhuran budi pekerti. (Hariyanto)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More