Gairah Melawan Renta

Penulis: Media Indonesia Pada: Selasa, 21 Apr 2015, 18:01 WIB Spektrum
Gairah Melawan Renta

James Nachtwey saat konferensi pers di Madrid, Spanyol, Jumat, 27 Maret 2015. AFP/Pierre-Philippe Marcou

Dalam sebuah diskusi sekaligus pemberian reward bulanan untuk tim artistik, seorang layouter senior mengungkapkan kegalauannya. Usia pengabdiannya di Media Indonesia yang tersisa satu tahun lagi membuatnya merasa di ujung kreativitas. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, termasuk pendidikan, ia memvonis diri sulit bersaing dengan para juniornya.

Sebentuk ungkapan yang menyentak. Hingga kini saya meyakini usia bukanlah pembendung kreativitas. Selama keinginan kuat masih menyala, kreativitas akan menemukan jalan terang. Usia tua hanyalah kerikil yang hanya melambatkan langkah, tetapi tidak menghentikannya.

Menjawab kegalauan sang senior itu, tak banyak yang saya berikan, kecuali beberapa deret kata motivasi dan tantangan. Tantangan yang tidak boleh diperlakukan sebagai beban. Walhasil, dua bulan kemudian ia mampu mencatatkan diri sebagai staf artistik terbaik mengalahkan puluhan lainnya. Munculnya kegairahan dalam berkarya mengantarnya masuk ke jajaran orang-orang yang bisa diandalkan.

Gairah adalah kata kuncinya. Gairah akan menghidupkan kreativitas. Dan, kreativitas adalah nyawa para pekerja visual, termasuk jurnalis foto. Tua muda tak ada bedanya.

Deretan fotografer kenamaan telah memberikan contoh kepada kita, antara lain James Nachtwey, Eugene Richards, dan Sebastiao Salgado. Opa-opa itu masih berkelana di belantara foto jurnalistik dunia. Usia senja tidak membuat mereka menjadi renta. Mereka adalah legenda.

James Nachtwey, kelahiran Massachusetts, Amerika Serikat, 14 Maret 1948, adalah contoh nyata. Pria yang kisahnya diabadikan dalam film dokumenter War Photographer itu masih terus menunjukkan eksistensinya. Konflik, perang, dan dampaknya pada kemanusiaan menjadi ladang kesaksiannya. Ia acap ada di tengah gejolak dunia. Indonesia adalah negeri yang sering didatanginya. Bahkan, karyanya tentang pembantaian seorang warga saat Reformasi 1998 diganjar sebagai pemenang World Press Photo kategori spot news stories. Segudang penghargaan bergengsi lain pernah diraihnya, di antaranya Robert Capa Gold Medal (5 kali), World Press Photo of the Year (2 kali), Magazine Photographer of the Year (7 kali), dan Martin Luther King Award.

Foto-foto bidikannya hingga kini masih mengisi halaman-halaman majalah Time. Media kenamaan itu telah menjadikannya fotografer kontrak selama lebih dari 30 tahun. Karyanya yang menggambarkan modernisasi Kota Ho Chi Minh, Vietnam, pascaperang 40 tahun lampau, menyertai laporan utama Time edisi minggu lalu.

Tak berbeda dengan Nachtwey, Eugene Richards ialah sosok yang patut ditiru. Dalam usia menjelang 71 tahun, kakek kelahiran 25 April 1944, di Dorchester, Massachusetts, itu belum berhenti berkiprah. Richards bukan hanya fotografer, melainkan juga writer dan filmmaker jempolan. Majalah terkemuka seperti LIFE, National Georgraphic, New York Times Magazine, dan The Nation merupakan media yang setia memajang karya-karyanya.

Pada 1973 ia kali pertama menerbitkan buku foto tentang kemiskinan di negerinya bertajuk Few Comforts or Surprises: The Arkansas Delta. Sejak itu belasan buku foto yang mengisahkan sisi-sisi kemanusiaan dan dampak perang, termasuk War is Personal (2010), diterbitkannya. Cuplikan buku esai foto tentang kehidupan tentara veteran AS korban perang di Irak tersebut diganjar penghargaan tertinggi World Press Photo 2010 kategori contemporary issues stories. Sepanjang kariernya, Richards juga mendapatkan berbagai penghargaan. Mulai Guggenheim Fellowship, W Eugene Smith Grant in Humanistic Photography, hingga Robert F Kennedy Lifetime Achievement Award dalam genggamannya.

Legenda hidup lainnya ialah Sebastiao Salgado. Fotografer kelahiran Aimores, Provinsi Minas Gerais, Brasil, 8 Februari 1944, itu mengawali karier di agensi foto Sygma pada 1973. Setahun kemudian ia pindah ke Gamma dan pada 1979 hingga 1994 menjadi andalan Magnum, hingga akhirnya ia mendirikan agensi foto Amazona Images bersama sang istri, Leila. Ia telah melanglang buana ke lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia. Potret penambang di Kawah Ijen menjadi salah satu dari kumpulan foto pekerja di 23 negara yang masuk bukunya yang berjudul Workers: Archeology of the Industrial Age (1993). Salgado juga mencuplik kehidupan suku Mentawai dan suku-suku di pedalaman Papua menjadi bagian dalam bukunya yang lain, bertitel Genesis (2013).

Kini, dalam usianya yang melewati 71 tahun, Salgado masih menjejakkan kaki di berbagai belahan bumi. Ia menjelajah hingga pedalaman belantara demi merekam peradaban. Jajaran penghargaan termasuk Oscar Barnack Award, Hasselblad Award, dan King Spain Journalism Award menjadi salah satu bukti kehebatannya. Sebagai penghormatan atas pengembaraannya, sutradara kondang asal Jerman Wim Wenders berkolaborasi dengan anak Salgado, Juliano Salgado, menggarap film dokumenter bertitel The Salt of the Earth. Sebuah ode visual yang indah untuk sang legenda. Film itu akhirnya terpilih sebagai nomine film dokumenter terbaik Piala Oscar, 22 Februari 2015 lalu.

Natchwey, Richards, dan Salgado telah memberi bukti bahwa usia yang menua bukanlah kendala dalam berkarya. Mereka sejatinya mengirimkan tanda-tanda tentang cara merawat gairah bertarung melawan usia. Selanjutnya terserah kita....

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More