Tentang Rasa

Penulis: Media Indonesia Pada: Senin, 27 Apr 2015, 17:58 WIB Spektrum
Tentang Rasa
Kontes fotografi merupakan salah satu tolok ukur untuk menakar kecakapan para fotografer. Ia menjadi cermin kepiawaian juru potret dalam menyampaikan bahasa visualnya.
Kontes fotografi merupakan salah satu tolok ukur untuk menakar kecakapan para fotografer. Ia menjadi cermin kepiawaian juru potret dalam menyampaikan bahasa visualnya. Namun, kontes fotografi, yang marak akhir-akhir ini, tidak serta-merta meningkatkan kualitas karya para peserta. Yang terjadi malah sebaliknya. Peningkatan kuantitas berjalan seiring dengan penurunan kualitas. Yang menurun ialah muatan pesannya. Hal itu saya rasakan setelah beberapa kali terlibat dalam penjurian. Kini, karya peserta sebagian besar sekadar indah di mata, tetapi tidak mampu membangkitkan selera. Apalagi hingga menyentuh sisi terdalam rasa.

Tak sedikit di antara peserta yang mengabaikan makna, lebih peduli pada tampilan visual semata. Mereka berupaya mempercantik karya dengan beragam cara. Salah satunya melalui polesan instrumen editing foto yang hari-hari ini makin berjibun pilihannya. Peranti yang menggoda para pemotret menampilkan kondisi 'hiperreal'. Sebuah kenyataan yang dalam pikiran pakar media Prancis, Jean Baudrillard, bersubstansi mengacaukan hakikat dan realitas. Selain itu, banyak pengulangan foto-foto lama yang telah memenangi kontes sebelumnya.

Agar laju fotografi tak kian terjerumus dalam kedangkalan makna, sebagai juri saya tidak tega memberi keleluasaan pada foto-foto seperti itu. Biar bagaimanapun, pesan merupakan unsur terdominan dalam setiap penjurian. Sekadar indah tapi miskin makna ibarat mobil mewah yang kosong bahan bakarnya. Hanya sedap dipandang, tapi tak bisa digunakan.

Makna pada fotografi, terutama fotografi jurnalistik, sejatinya membuka ruang-ruang argumentasi. Makna juga merangsang sensitivitas rasa, kreativitas, dan kecerdasan seseorang. Ia membawa kekuatan kodrati fotografi yang bersifat otonom. Dari makna itulah kita dapat rasakan perayaan intelektualitas para pembuatnya.

Bagi saya, fotografi jurnalistik itu harus jujur bersuara. Ia selalu bertumpu pada fakta, jauh dari manipulasi dan rekayasa. Ia juga tidak boleh membual seperti kebanyakan poster, spanduk, dan baliho para bakal calon kepala daerah. Foto disertai slogan kampanye yang hari-hari ini mulai mengotori wajah kota demi menyongsong pilkada serentak pada Desember 2015. Alih-alih ingin mempromosikan diri, mereka malah mendapatkan antipati.

Pada titik inilah kita berbicara tentang rasa. Rasa yang mengantarkan seorang jurnalis foto mampu menghadirkan dunia bagi para penikmat karyanya. Namun, elemen rasa itu kerap dinegasikan. Padahal, rasa menjadi modal dalam menguar makna, apalagi bagi seorang jurnalis foto yang bertugas membingkai fakta dan mengabarkannya kepada khalayak. Karena bekerja demi kepuasan pembaca, ia tidak boleh egoistis atau memuaskan pribadinya saja.

Jurnalis foto yang baik seharusnya mampu mengendalikan perasaan dan membayangkan perasaan orang lain yang akan melihat karyanya. Mereka juga 'tidak melulu patuh' pada apa yang tampak di depan mata. Dengan berjejak dari situlah, akan muncul ide penggunaan teknik fotografi, angle, komposisi, hingga pemilihan objek. Ujungnya pemaknaan setiap foto yang dihasilkan.

Sensitivitas rasa akan menjadi penunjuk arah ke mana mencari makna. Bekal itu yang membedakan jurnalis foto yang satu dengan lainnya. Tentu saja semuanya mesti ditopang pengetahuan. Kekayaan pengetahuan akan memandu memadupadankan elemen dari sebuah peristiwa dan simbol-simbol penuh makna. Kekayaan pengetahuan juga menjadi kunci dalam memenangi persaingan.

Adanya rasa dan makna pada fakta visual akan memperkuat sebuah kesaksian. Ia tidak sekadar mewartakan drama kehidupan, tetapi juga menorehkan jejak peradaban. Ia ada karena daya para jurnalis foto yang menyadari keberadaannya. Semoga Anda ialah barisan penggugah rasa itu. (Hariyanto)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More