Lupa Diri

Penulis: Media Indonesia Pada: Senin, 11 Mei 2015, 17:56 WIB Spektrum
Lupa Diri

INILAH parade kegetiran: tiga kisah tentang kematian yang mengisi halaman koran dan ruang media daring di awal bulan ini. Paling anyar, berita tewasnya Sukma Wardana, 30, Fadhnaa Edrus, 24, dan Juhain, 33, di Pantai Tanjung Beloam, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Kamis (7/5). Ketiganya diterjang gelombang pasang ketika asyik ber-selfie di bibir pantai. Mereka ditemukan meninggal akibat tergulung oleh ombak.

Nasib nahas juga menimpa Alifia Fahmapratiwi, 14, siswi SMP di Malang, Jawa Timur, Minggu (3/5). Keasyikan memainkan telepon seluler membuat nyawanya melayang akibat terhantam kereta yang melaju kencang. Kabar kematian lainnya datang dari Yanuru Aksanu Laila, 23, mahasiswa asal Malang, Jawa Timur. Yanuru tidak menyadari sudah berada di bibir jurang saat ingin memotret diri berlatar belakang air terjun Cuban Sewu di Lumajang, Jawa Timur, Jumat (1/5). Ia lalu terhempas dan terseret oleh arus deras sungai hingga tewas.

Menemui ajal akibat tak terkontrolnya dorongan mengabadikan diri bukan hanya dialami Sukma, Fatma, Juhain, Yanuru, dan Alifia. Selama periode 2014 hingga menjelang pertengahan 2015 saja sudah belasan raga terpisah dari nyawa bermula dari selfie. Peristiwa tragis serupa juga ada di belahan dunia lainnya. Keinginan memamerkan superioritas berujung pada mortalitas.

Manusia memang tidak kuasa menolak takdir kematian. Namun, menghubungkan laku fotografi dengan kematian sesungguhnya mengganggu nalar siapa pun. Itu merupakan paradoks tingkat tinggi. Namun, kenyataan tak bisa dimungkiri. Hari-hari ini makin banyak yang mati karena selfie.

Memotret diri sendiri telah dilakukan sejak 1900, bersamaan dengan mulai digunakannya kamera boks Kodak Brownie. Putri Kekaisaran Rusia Anastasia Nikolaevna ialah orang pertama yang melakukan swafoto melalui cermin lalu mengirimkan untuk temannya pada 1914. Istilah selfie kali pertama muncul pada forum internet Australia (ABC Online) pada 13 September 2002. Diksi selfie resmi tercantum dalam Oxford English Dictionary versi daring dan dicatat sebagai Word of the Year 2013.


Kini, selfie menjadi wabah yang menjangkiti berjuta manusia di berbagai penjuru dunia. Kegemaran ber-selfie telah menghinggapi orang biasa, selebritas, hingga pemimpin negara. Mereka orang-orang yang sangat bermurah hati mengabarkan fakta-fakta pribadi dari ruang terang hingga ruang remang-remang. Dari wilayah publik hingga wilayah domestik. Dari suasana bahagia hingga nestapa.

Tulisan ini bukan bermaksud menyampaikan ajakan untuk menghentikan aksi mengabadikan diri. Selama masih dalam batas akal waras dan tetap bertumpu pada rasionalitas, selfie menjadi kegiatan yang menyenangkan. Sebagai bentuk narsisisme modern, sebaiknya selfie dimanfaatkan untuk segala hal yang produktif. Termasuk, menggunakannya sebagai promosi yang bisa mendatangkan keuntungan ekonomi. Selfie juga dapat dijadikan sebagai produk jurnalistik yang berguna bagi kepentingan publik. Mengunggah selfie ke media sosial dengan memperhitungkan kedalaman makna dan sesuai dengan kode etik foto jurnalistik berpeluang menggusur liputan media arus utama.

Narsisisme atas nama selfie selayaknya disambut positif oleh para pekerja media. Apalagi jika itu dilakukan oleh figur publik, pasti sangat besar kemungkinannya dicuplik dalam ruang-ruang jurnalistik. Gejala itu tidak saja melahirkan ide-ide segar liputan, tetapi juga menghadirkan eksklusivitas dan angle berbeda dari fakta visual sebuah peristiwa.

Fenomena selfie dan narsisisme kian menjadi-jadi setelah ditemukannya alat bantu bernama tongkat narsis (tongsis). Dengan menggunakan tongsis, memotret diri kian leluasa. Tongsis juga memungkinkan seorang reporter televisi yang biasanya bekerja bersama juru kamera sekarang dapat melakukan reportase sendirian. Pula sebaliknya. Terobosan itulah yang mulai dikembangkan stasiun televisi.

Namun, selfie yang terlahir dari berkah berkembangnya teknologi bisa menimbulkan masalah jika pelakunya terlena. Seperti candu, selfie juga dapat membuat lepas kendali, menggerus akal budi, memajalkan nurani, hingga membunuh diri. Itulah sebabnya selfie seperti itu mesti dihindari. Laku tersebut merupakan bagian paling 'paripurna' dari proses pendangkalan makna fotografi. Jika tidak ingin disebut sebagai manusia pemuja kedangkalan makna, selfie tidak boleh menjelma menjadi berahi yang membuat lupa diri...(Hariyanto)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More