Berhaluan Kejujuran

Selasa, 8 November 2016 22:01 WIB Penulis: Hariyanto

Thinkstock

POLITICS is the art of the possible. Politik ialah seni kemungkinan. Begitu kata Otto von Bismarck. Pemikiran kanselir pertama Kekaisaran Jerman abad ke-19 itu menyiratkan makna bahwa dalam politik segala rupa bisa terjadi. Hal yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin. Demikian pula sebaliknya. Itu seperti yang acap terjadi di panggung politik negeri ini.

Politik berhakikat menjadikan kemenangan sebagai tujuan. Tentu saja kemenangan yang tegak lurus pada aturan dan bertumpu pada kejujuran. Itulah sebabnya dalam setiap kontestasi demokrasi, regulasi fair play selalu lantang dikumandangkan.

Akan tetapi, realitas politik hari ini pada praktiknya kerap dinodai laku menyimpang. Kejujuran yang dikumandangkan masih sebatas slogan. Saujana politik belumlah lebih dari upaya memperoleh dan melanggengkan kekuasaan semata. Persis pemikiran filsuf Italia Niccolo Machiavelli yang berkembang sejak abad ke-16.

Politik hari ini juga masih terbelenggu oleh fanatisme semu para pendukung kontestan. Tak perlu repot-repot mencarinya, tengoklah gejolak di dunia maya. Tidak hanya medium kampanye, kekuatan media sosial juga kerap digunakan sebagai perangkat untuk menyerang sekaligus menjatuhkan lawan.

Pilkada serentak pada 15 Februari 2017 mendatang yang telah memasuki fase kampanye membuat dunia maya kian berwarna. Beragam pola kampanye dapat kita baca di dalamnya. Ada yang berkampanye secara sehat, tetapi tidak sedikit yang menebarkan virus-virus berbahaya mulai penyebarluasan berita tanpa fakta hingga pengolahan isu SARA.

Padahal, selain menjunjung tinggi fair play, sikap respek atau saling menghargai antarsesama kontestan dan pendukung merupakan hal mutlak yang tak boleh ditepikan. Sikap respek selayaknya diperlihatkan dalam setiap langkah di dunia nyata ataupun maya. Itu jangan hanya disimpan sebagai ornamen hiasan dalam lemari kaca.

Kontestasi politik hari ini sejatinya bukan sekadar gelanggang pergumulan para kontestan. Ia juga menjadi arena adu gagasan dan kecerdasan tim sukses, adu jajak pendapat lembaga survei, adu perspektif para pengamat, adu teori para akademisi, adu kearifan para budayawan, adu penyampaian fakta dan kebijakan redaksional tiap-tiap media. Semua berhadapan demi sebuah kemenangan.

Ihwal demikian membuat politik acap menebar aroma rasa gundah. Politik dikhawatirkan mengoyak ketenteraman bahkan kesatuan warga. Kontestasi politik bukan lagi perayaan demokrasi yang membahagiakan publik, melainkan malah menakutkan. Disharmoni seperti itu tidak boleh terjadi.

Lantas, sebagai pekerja media, peran apa yang dapat kita mainkan agar pentas politik mendatangkan kebahagiaan publik?

Politik memang bertemali erat dengan jurnalistik, termasuk foto jurnalistik. Keduanya identik, sama-sama menantang pelakunya jeli menangkap peluang. Kejelian yang bakal menjadi modal penciptaan kemungkinan. Politik dan foto jurnalistik sama-sama mencari peluang dari celah yang ada. Sekecil apa pun celahnya, bukan tidak mungkin akan besar dampaknya. Akan tetapi, semuanya haruslah berakar pada basis akurasi fakta, bukan rekayasa.

Jika nyatanya politik hari ini lebih kuat tumpuannya pada kepentingan, mari kita jaga muruah foto jurnalistik agar selalu berepisentrum pada kejujuran. Berhaluan pada akurasi, verifikasi, kepantasan, dan manfaatnya bagi publik. Juga, kita pastikan fotografi jurnalistik tidak tereduksi oleh kepentingan pribadi dan golongan. Dengan begitu, kita ikut berperan menjaga kejernihan ruang-ruang jurnalistik sebagai cermin kewarasan berpikir publik.

Politikus atau jurnalis sejatinya bukan predikat belaka. Pada keduanya, melekat erat peran dan tanggung jawab yang amat berat. Ke mana keduanya melangkah, kepentingan publiklah tujuannya. Pada konteks ini, biarkanlah idealisme dan radar nurani kita masing-masing yang bekerja. Hingga akhirnya, kita yakin memilih satu di antara dua pilihan, menyalahgunakan atau membenargunakan predikat itu....(Hariyanto)

Thinkstock

Komentar