Jalan Raya Memantulkan Peradaban

Rabu, 7 September 2016 20:09 WIB Penulis: Hariyanto

Antara / Muhammad Adimaja

JALAN raya sesungguhnya cermin peradaban suatu bangsa. Ingin mengetahui tinggi rendahnya kadar disiplin? Tidak usah susah-susah mencari. Pergilah ke jalan raya, kita pasti akan mendapat jawabannya.

Jalan raya bukan cuma etalase patuh tidaknya rakyat pada aturan, tetapi juga parameter kehadiran negara dalam mengurus ruang publik untuk rakyatnya. Namun, realitas hari ini, jalan raya tetap menjadi ajang parade beraneka rupa pelanggaran.

Kecelakaan demi kecelakaan selalu terjadi setiap hari. Akibatnya, banyak anak bangsa yang mati sia-sia. Di negeri ini, berdasarkan data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, sepanjang 2015 hampir 27 ribu orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Mayoritas korban ialah pengendara sepeda motor berusia produktif.

Data lain yang dirilis The Global Status Report on Road Safety menempatkan Indonesia di peringkat 3 setelah Tiongkok dan India sebagai negara dengan tingkat kematian tertinggi akibat kecelakaan lalu lintas, yakni 38.279 kematian pada 2015. Statistik itu memberi gambaran bahwa jalan raya seolah telah menjadi ladang kematian bagi para penggunanya.

Khusus di wilayah Jakarta, pada periode 2015, kecelakaan terjadi hingga 6.346 kali. Dampaknya, 588 jiwa meninggal dunia dengan kerugian materi sekitar Rp18,83 miliar.

Pihak kepolisian telah menempuh beragam cara untuk mendisiplinkan dan mengampanyekan keselamatan di jalan. Banyak pula relawan melakukan hal yang sama. Dukungan serupa juga diberikan para jurnalis melalui berita, artikel, infografis, dan foto yang tayang di ruang-ruang media. Namun, kenyataannya hingga kini pelanggaran masih marak terjadi.

Di Ibu Kota, laku serampangan bahkan menyimpang di jalan raya amat mudah kita temui. Salah satunya ialah pelanggaran di jalur khusus bus Trans-Jakarta. Setiap hari selalu saja ada pengendara lainnya yang merambah busway.

Meski aparat penegak hukum berulang kali melakukan sterilisasi, pelanggaran belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Dalam catatan Ditlantas Polda Metro Jaya, selama lima hari sterilisasi pada 15 hingga 19 Juni 2016 lalu, sebanyak 1.643 pengendara melakukan pelanggaran. Dari jumlah itu, 1.551 merupakan pengendara sepeda motor.

Fakta yang menunjukkan rendahnya kualitas berlalu lintas, terutama di jalur bus Trans-Jakarta, sebenarnya telah tersebar luas melalui berbagai platform media. Satu di antaranya, lihatlah foto pengendara sepeda motor yang melawan arus demi menghindari razia polisi pada halaman 1 Media Indonesia edisi Kamis (11/8) lalu. Foto bidikan fotografer MI Arya Manggala itu lalu menjadi viral di media sosial.

Dua pekan sebelumnya, pada terbitan Selasa (26/7), MI juga menayangkan sekuen foto karya fotografer Antara Muhammad Adimaja di halaman yang sama ketika polisi berusaha mengejar pengendara sepeda motor yang mencoba kabur dari razia hingga terjatuh. Tak hanya mendapat porsi yang besar di banyak media, adegan memprihatinkan itu sontak menggema di dunia maya.

Sebagai produk jurnalistik yang dikonsumsi publik, dua contoh tadi sejatinya merupakan sketsa yang memiliki kedalaman makna. Ia lebih dari sekadar menyampaikan informasi. Perkara kemudian memiliki kekuatan menggerakkan perubahan atau tidak, itu tentu saja amat bergantung pada perspektif masing-masing dalam memaknainya.

Mengubah tabiat buruk berlalu lintas memang bukan perkara mudah. Itu ibarat menyelisik jarum di tumpukan jerami. Sulitnya bukan kepalang. Akan tetapi, demi meningkatnya kualitas berlalu lintas, menolak takluk pada keadaan ialah keniscayaan. Saya meyakini pihak kepolisian masih memiliki jurus-jurus andalan untuk menegakkan aturan. Aturan yang tidak bisa dibeli.

Bersamaan dengan itu, fungsi pewarta wajib kita jalankan. Pewarta yang memilih tetap setia memberitakan sekaligus mengingatkan kita agar selalu disiplin di jalan raya untuk menggapai kehidupan lebih baik di hari depan.

MI/Arya Manggala


Komentar