Mukadimah Cinta Indonesia

Senin, 25 July 2016 22:34 WIB Penulis: Hariyanto

MI/Ramdani

TAK bakal habis kata manakala menjelaskan Indonesia dan tidak akan cukup durasi bila memaparkan kekayaan negeri ini. Manusia, budaya, dan alam yang membentang dari ujung Sumatra hingga Papua ialah khazanah yang tiada tara. Indonesia serupa mozaik yang sangat indah, bahkan melampaui keindahan itu sendiri.

Indonesia teramat besar jika hanya dikemas dalam beragam tayangan televisi. Pun, terlalu luas andai dipetik dalam ribuan bingkai visual di halaman buku atau koran. Itulah sebabnya saya menghargai siapa saja yang berupaya mencuplik sudut-sudut indah dan keberagaman Tanah Air kita.

Apalagi, jika ikhtiar itu diwujudkan dalam karya fotografi yang bermutu tinggi. Karya yang menjadi pintu pembuka untuk mengenali lebih detail tentang Indonesia. Karya yang merupakan mukadimah untuk menjelajahi lebih jauh dan menyelami lebih dalam keelokan Indonesia. Hingga pada ujungnya menumbuh suburkan cinta akan keindahan dan kemajemukan Indonesia.

Di antara berjuta pesona Indonesia,ada dua tradisi budaya yang pada pekan-pekan ini menjadi magnet bagi fotografer. Pertama, perhelatan tradisi pacu jawi di Kabupaten Tanah Datar,Sumatra Barat. Kedua, upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo,Probolinggo, Jawa Timur. Inilah tradisi yang membuka peluang melahirkan karya visual paling menakjubkan.

Pacu jawi atau balapan sapi di sawah berlumpur ialah representasi syukur para petani sebelum mengawali masa tanam. Ekspresi para joki ketika memacu jawi dan cipratan lumpur di antara jawi-jawi yang beradu laju merupakan momen-momen incaran fotografer. Adapun Yadnya Kasada merupakan ritual larung sesajen berupa ternak, hasil bumi, dan uang ke dalam kawah Gunung Bromo sebagai simbol penghormatan suku Tengger kepada leluhur.

Pacu jawi dan Yadnya Kasada memiliki banyak keseksian yang menggoda dan menggairahkan naluri para fotografer. Antusiasme mereka membuat kedua tradisi tersebut dikenal luas di berbagai belahan dunia. Sederet nama telah mencatatkan diri sebagai pemenang kontes foto berskala nasional ataupun internasional melalui imaji pacu jawi dan Bromo.

Fotografer asal Padang, Muhammad Fadli, mengawalinya dengan menjadi pemenang ketiga Garuda International Photo Contest 2009. Prestasi itu diikuti rekannya, Zulkifli, yang meraih hadiah US$14.000 setelah memenangi kontes foto bergengsi HIPA 2012 di Dubai. Nama Zulkifli juga tercatat sebagai pemenang lomba foto Piala Presiden 2012. Namun, capaian tertinggi foto pacu jawi justru direbut fotografer Malaysia, Wei Seng Chen, yang menjuarai World Press Photo 2013 kategori sports action.

Di luar nama-nama itu, sejak 2009 hingga tahun lalu, masih banyak lomba foto dengan gaung lebih kecil yang menjadikan foto pacu jawi sebagai pemenang atau nominasi. Meskipun begitu, pada setiap kesempatan menjadi juri lomba foto yang temanya seputar pariwisata dan budaya selalu saja saya temukan foto-foto pacu jawi yang serupa dengan foto sebelumnya.

Foto-foto tentang Yadnya Kasada dan segala hal yang ada di Bromo pun demikian. Tidak sedikit jurnalis foto yang memenangi kontes fotografi dunia melalui foto Bromo. Salah satunya ialah fotografer AFP asal Prancis, Christophe Archambault, yang menjadi juara ketiga World Press Photo 2011 kategori nature stories. Jurnalis foto Indonesia, Rony Zakaria, menempati posisi ketiga di ajang National Press Photographers Association (NPPA) 2011 kategori best of photojournalism in nontraditional publishing. Rekannya, Kemal Jufri, mendapat penghargaan di ajang yang sama pada 2015.

Dengan semakin banyaknya foto pacu jawi dan Bromo sebagai pemenang berbagai kontes fotografi tentu saja kian mengurangi eksklusivitas foto yang dihasilkan dari tradisi itu. Lain halnya jika ada yang mampu menangkap dengan imaji berbeda dari yang sudah ada. Inilah tantangan berat bagi para fotografer ketika memotret ajang berulang yang telah mendunia. Selain itu, mereka sebaiknya berupaya menemukan buruan baru yang kian menambah melimpahnya kekayaan Indonesia.

Tak bisa dimungkiri, fotografi merupakan medium efektif untuk menyebarluaskan informasi, promosi, edukasi sekaligus inspirasi. Oleh karena itu, jangan pernah lelah menyusuri dan mengabadikan terus tiap-tiap sudut Indonesia. Itulah cara kita mencintai dan merawat Indonesia. Saya meyakini, masih ada begitu banyak keindahan yang tersembunyi di negeri ini.

MI/Sumaryanto

Komentar