Biarlah Foto yang Bicara

Senin, 20 June 2016 19:12 WIB Penulis:

AFP/Philippe Lopez

Satu hal yang paling ditunggu dalam laga sepak bola ialah momen ketika gol tercipta. Ibarat orang berpuasa, gol itu serupa saat berbuka.

Gol melahirkan parade perayaan kegembiraan. Di lapangan, para pemain mengekspresikan dalam beragam cara, di luar lapangan puluhan ribu suporter menyambutnya gegap gempita. Tak jarang, ada di antara mereka yang lupa diri hingga melakukan selebrasi menyimpang. Itulah kejutan sekaligus daya magis sepak bola.

Kejutan itu nyata ketika Kroasia mengempaskan Turki pada penyisihan Grup B Piala Eropa 2016 di Stadion Prac Des Prince, Paris, Prancis, Minggu (12/6).

Dalam tayangan langsung di televisi, pemain tengah Kroasia Luka Modric sontak berlari kencang ke sudut sebelah kanan gawang lawan ketika tendangan volinya dari luar kotak penalti menembus gawang Turki. Di dekat tiang bendera ia bersimpuh dan berteriak kegirangan sembari merentangkan kedua tangan. Punggawa skuat Vatreni (julukan Kroasia) yang lain pun seketika berhamburan memeluknya.

Pada saat bersamaan, sosok laki-laki dengan kepala dan wajah berhias warna bendera Kroasia terlihat sekelebat dalam selebrasi mereka. Ia pun memeluk para pemain yang tengah larut dalam euforia. Anehnya, di layar kaca adegan istimewa itu seolah luput atau amat mungkin 'sengaja diluputkan'. Mengapa demikian? Karena juru kamera sempat merekam fakta itu, tetapi begitu mereka menyadari, arah kamera langsung dialihkan.

Upaya juru kamera akhirnya membuat momen unik berdurasi tak sampai sedetik itu bagaikan angin lalu saja. Padahal, seorang penonton menerobos masuk ke lapangan kemudian larut dalam kegembiraan bersama pemain merupakan realitas yang langka.

Apa yang dilakukan oleh pihak penyelenggara melalui juru kamera sejatinya ialah wujud self-censorship. Ketika Piala Eropa 2016 dihantui oleh kecemasan akan adanya aksi teror, hal-hal yang mengganggu keamanan atau notabene menjadi simbol ketidakamanan sesegera mungkin dihilangkan.

Meskipun demikian, kejadian tersebut tetap tersebar luas ke seluruh penjuru dunia. Kehadiran pewarta foto independen yang bekerja berdasarkan kepekaan dan nilai jurnalistik semata menjadi penyebabnya. Mereka tak bergeming melihat fakta di depan mata. Melalui foto, ulah nekat sang suporter tertangkap jelas sejak ia masuk ke lapangan, nimbrung dalam selebrasi, hingga diusir petugas.

Adegan demi adegan menyebar luas melalui 11 foto yang disiarkan oleh kantor berita Associated Press (AP). Pesaing AP, Agence France-Presse (AFP) merilisnya sebanyak 11 foto. Belum lagi foto-foto hasil bidikan ratusan fotografer wire service dan media lainnya. Salah satunya menjadi foto utama Media Indonesia edisi Senin (13/6).

Di benua berbeda, peristiwa hampir sama pernah terjadi ketika laga Indonesia kontra Oman pada kualifikasi Piala Asia, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rabu (6/1/2010) silam. Kala itu, pendukung fanatik timnas Indonesia, Hendri Mulyadi, menerobos masuk lapangan, merebut bola, lalu menggiringnya hingga ke gawang Oman. Namun, upayanya mencetak gol digagalkan penjaga gawang Oman. Ia beralasan ulahnya itu sebagai ekspresi kekecewaan terhadap prestasi timnas yang tak pernah menang.

Aksi konyol Hendri Mulyadi itu kemudian mendominasi pemberitaan. Hampir semua media online dan cetak di Tanah Air lebih memilih memajang foto tingkah polahnya daripada menampilkan gambaran kekalahan timnas Indonesia. Foto yang boleh jadi merupakan representasi wajah kelam sepak bola kita. Wajah yang hingga kini belum bersalin rupa.

Seperti adagium 'A picture's worth a thousand words', kisah nekat suporter Kroasia dan Indonesia dalam imaji fotografi sejatinya mengisyaratkan banyak makna, juga menorehkan jejak pada sejarah. Sejalan dengan itu, jurnalis foto akan terus pula menjalankan tugasnya. Mengabarkan, mengingatkan, serta menggerakkan dengan karya yang bermakna lebih dari seribu kata.

Kejutan berikutnya bisa muncul kapan saja, termasuk dari 10 stadion tempat para ksatria sepak bola berlaga di Piala Eropa 2016.(Hariyanto)

MI/Rommy Pujianto

Komentar