Muslihat Steve McCurry

Selasa, 7 June 2016 19:42 WIB Penulis:

Foto Afghan Girl yang terdapat perbedaan di sudut kelopak mata.

Nama baik itu serupa keramik. Ia akan terus berkilau jika kita selalu menjaga dan merawatnya. Usia yang menua akan membuatnya kian berharga. Sebaliknya, goresan kecil saja akan sangat sulit mengembalikan keramik itu seperti sedia kala. Perumpamaan itulah yang kini pantas disandang oleh fotografer kondang Steve McCurry.

Di jagat fotografi, fotografer berusa 65 tahun itu tidak saja dikenal piawai memilih subjek foto, tetapi juga memiliki kecerdasan luar biasa memainkan angle, komposisi, pola, cahaya, dan warna. Foto-foto bidikannya di majalah National Geographic dan belasan buku yang telah diterbitkannya merupakan bukti kehebatan McCurry. Karya-karyanya selama ini boleh dikata nyaris sempurna!

Kehebatan itulah yang membuat McCurry meraih banyak penghargaan tingkat dunia, di antaranya Magazine Photographer of the Year dan Robert Capa Gold Medal. Bahkan, pada 1985 ia memuncaki empat kategori (nature, nature stories, daily life, dan daily life stories) sekaligus di ajang prestisius kontes foto jurnalistik dunia, World Press Photo.

Imaji bidikan McCurry yang fenomenal ialah potret gadis Afghanistan dengan tatapan mata tajam yang ia abadikan di kamp pengungsian Peshawar, Pakistan, pada 1984. Potret gadis bernama Sharbat Gula, 12, itu menjadi sampul National Geographic edisi Juni 1985 dan kemudian menjadi ikon imaji penderitaan akibat perang hingga sekarang.

Semua jejak yang telah dicetak McCurry menjadikannya sebagai panutan para fotografer, termasuk bagi kalangan jurnalis foto. Malah, tak sedikit yang memberikan predikat mahaguru foto jurnalistik.

Namun, sejak awal Mei lalu, nama besarnya mulai memudar. Hal itu berawal ketika seorang fotografer bernama Paolo Viglione menemukan kecerobohan olah digital pada foto karya McCurry yang dipamerkan di Roma, Italia. Dalam foto yang dibuat di Havana, Kuba, tersebut tampak bekas 'kloning' dari tiang berwarna kuning di kaki laki-laki yang tengah melintas.

Viglione lalu menuliskan artikel tentang manipulasi foto karya McCurry di blognya. Tulisan Viglione itu akhirnya menggema di dunia maya dan memicu kecurigaan secara masif terhadap semua foto yang pernah dihasilkan oleh McCurry. Kecurigaan yang segera bersalin rupa menjadi kekecewaan dan kebencian, karena hari demi hari semakin bertambah bukti foto yang telah dimanipulasi.

Bahkan, potret Afghan Girl juga tidak luput dari sentuhan manipulasi. Jika kita cermati kover National Geographic edisi Juni 1985, Oktober 2013 (termasuk National Geographic Indonesia), dan poster yang ada di website McCurry, akan kita temukan perbedaan pada sudut kelopak mata. Pada kover edisi Juni 1985 tidak terdapat kotoran, sedangkan di kover edisi Oktober 2013 dan poster di website McCurry kotoran itu nyata. Itu terungkap dalam artikel yang ditulis oleh fotografer sekaligus videografer India Kshitij Nagar.

Setelah skandal terbongkar, McCurry berkilah bahwa ia hanya memotret dan mengirimkan kepada timnya untuk digunakan sesuai kebutuhan. Sebuah alasan yang terkesan mencari pembenaran karena agak tidak masuk akal jika pekerja olah digital menghilangkan objek tanpa sepengetahuan fotografernya. McCurry yang kian tersudut akhirnya mengeluarkan jurus 'ngeles' pamungkas ketika menjawab pertanyaan TIME dengan mengatakan bahwa dirinya bukan photojournalist, melainkan visual storyteller.

McCurry tentu saja berhak menyampaikan seribu satu macam alasan, tetapi ia pasti belum terlalu renta untuk mengingat perjalanan kariernya di jagat foto jurnalistik yang membesarkan nama dan membuatnya kaya raya. Atau, justru karena gelimang ketenaran dan kekayaan yang ia raih dari foto-fotonya itulah, tiba-tiba ia seolah mengidap amnesia.

Kini, McCurry bukan lagi jurnalis foto yang menyampaikan fakta dalam bingkai kejujuran. Bagi saya, ia tidak lebih dari pekerja visual yang penuh muslihat digital. Dengan begitu, ia telah mengubah diri dari sosok pujaan menjadi bahan cercaan. (Hariyanto)

Karya Steve McCurry yang belum dan sesudah dimanipulasi.

Komentar