Oasis Bulu Tangkis

Selasa, 19 April 2016 19:17 WIB Penulis:

Salah satu peran pers yang tidak boleh kita tepikan ialah menghidupkan dan menjaga harapan. Foto jurnalistik pun demikian. Sebagai anak kandung pers, ia bukan sekadar saksi, melainkan juga memiliki daya membangkitkan gairah, menyemai benih-benih optimisme, bahkan menggerakkan perubahan.

Itulah jawaban yang saya sampaikan ketika seorang fotografer menanyakan alasan penayangan foto selebrasi pebulu tangkis Sony Dwi Kuncoro saat menjuarai Singapura Terbuka 2016, di halaman 1 Media Indonesia, Senin (18/4). Bagi saya, penayangan aksi Sony sebagai visual utama itu mengisyaratkan lebih dari satu makna.

Pertama, tunggal putra bulu tangkis kita masih ada. Musim paceklik gelar telah berakhir. Kedua, untuk memberikan penghormatan kepada atlet yang berjuang mengibarkan Merah Putih di negeri orang. Ketiga, hingga kini bulu tangkis masih menjadi mata air di tengah padang kering akibat kemarau panjang prestasi cabang olahraga lainnya. Keempat, menumbuhsuburkan semangat nasionalisme.

Kemenangan Sony merupakan contoh kegigihan seorang atlet dalam menyalakan kembali bara api yang meredup. Di bawah asuhan pelatih yang juga istrinya, Gading Safitri, Sony membuktikan diri mampu menampilkan performa terbaik meski tak lagi menjadi bagian dari pelatnas PBSI Cipayung.

Betapa tidak? Sebelum menggenggam gelar juara, ia merangkak melalui fase kualifikasi hingga akhirnya berjaya di laga puncak setelah mengempaskan jagoan Korea Selatan Son Wan-ho 21-16, 13-21, dan 21-14. Pebulu tangkis senior itu juga membuat kejutan dengan menundukkan legenda Tiongkok Lin Dan di semifinal.

Sepekan sebelumnya, ekspresi kemenangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir juga menjadi foto utama di halaman depan Media Indonesia. Setelah tak bergelar sejak memuncaki Prancis Terbuka 2014, Juara Dunia 2013 itu akhirnya bisa kembali menunjukkan taring dengan merebut gelar Malaysia Terbuka Super Series Premier 2016.

Media Indonesia juga memuat foto pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto saat mereka menjuarai All England 2016 di Birmingham, Inggris, Senin (14/3) lalu. Kejutan anak-anak muda di turnamen bergengsi itu sebagai sinyal bahwa regenerasi bulu tangkis kita telah menuai hasilnya.

Meskipun prestasi bulu tangkis kita masih fluktuatif, tak bisa dimungkiri bahwa bulu tangkis masih menjadi 'identitas bangsa'. Bulu tangkis masih terus membuat kita lantang meneriakkan yel yel Indonesia, juga mengajak kita tegap berdiri khidmat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Hingga, dengan penuh keyakinan kita katakan, “Aku bangga menjadi orang Indonesia.” Tak serupa sajak Taufik Ismail, “Aku malu menjadi orang Indonesia.”

Di tengah beraneka noda yang melukai sekujur tubuh republik ini, bulu tangkis sejatinya bukan hanya merupakan obat mujarab yang menyembuhkan, melainkan juga menyejukkan dan menyatukan bangsa ini. Dan, semua itu akan kian bergema ke seluruh penjuru Nusantara ketika foto jurnalistik menunaikan perannya. Sebuah peran menjaga kewarasan, merawat harapan, dan mewujudkan mimpi segenap anak bangsa. (Hariyanto)

Komentar