Ayo ke Bandung

Selasa, 5 April 2016 18:48 WIB Penulis:

Datanglah ke Bandung, akhir pekan ini. Abaikan sedikit kemacetan. Jika sudah tiba di Kota Kembang, jangan lupa bersambang ke Jalan Asia Afrika. Berderet bangunan bersejarah penanda kota ada di sana. Gedung De Vries satu di antaranya. Bangunan yang didirikan pada 1879 itu pada masa lampau merupakan toko swalayan. Kini, ia hidup kembali sejak direnovasi dan beralih fungsi menjadi kantor bank swasta.

Gedung berlanggam art deco itu, mulai Sabtu (9/4) hingga Minggu (17/4), menjadi saksi terpilihnya foto-foto jurnalistik terbaik di negeri ini. Pada dinding dalamnya terpampang cuplikan beragam kisah yang terasa bernyawa. Kisah dalam bingkai-bingkai yang bukan sekadar pajangan penghias ruang, melainkan juga imaji yang mampu mengalirkan energi untuk memengaruhi dan menginspirasi.

Itulah sepenggal gambaran penyelenggaraan Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2016, ajang paling bergengsi bagi jurnalis foto di seluruh Tanah Air. Setelah lima kali digelar di Jakarta, tahun ini Bandung menjadi tuan rumah. Anak-anak muda yang tergabung dalam Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bandung mendapat mandat dari pengurus PFI untuk menggelar acara tahunan tersebut. Dengan kompetensi, militansi, dan kerelaan hati, mereka bersatu padu demi bergemanya jurnalisme foto Indonesia.

Perhelatan sembilan hari itu akan diawali dengan malam penghargaan APFI 2016 di Gedung Merdeka. Di tempat terpisah, hanya beberapa langkah dari Gedung Merdeka, tepatnya di Gedung De Vries, foto-foto pemenang dipamerkan. Karya yang menjadi penakar kadar kualitas jurnalis foto Indonesia itu akan dipajang hingga ujung pekan depan.

Di tempat yang sama, pada Minggu (10/4) akan ada diskusi mengenai foto-foto yang memenangi APFI. Ada pula dialog buku fotografi Spektrum Kehidupan yang merupakan catatan visual para fotografer Media Indonesia pada Jumat (15/4). Pada Sabtu (16/4), digelar diskusi tiga buku foto sekaligus, yakni Inilah Negeriku terbitan Seribu kata, Agent Orange Generation karya Jefri Tarigan, dan Saudede karya Agung Kuncahya B.

Dalam sebuah kontes fotografi seperti APFI, foto-foto terpilih sejatinya merupakan cermin kinerja para juri. Saya bersama Oscar Motuloh, Ed Wray, Mast Irham, Enny Nuraheni, Agus Susanto, dan Bayu Ismoyo yang mendapat kepercayaan sebagai juri tentu saja mengemban beban yang tidak ringan. Memilih yang terbaik di antara lebih dari 3.500 foto yang dikirimkan 468 peserta (termasuk 136 jurnalis warga) bukan perkara mudah.

Selama dua hari penjurian, diskusi pajang bahkan perdebatan sengit kerap terjadi. Semua itu kami tempuh agar derajat hajatan nasional jurnalisme foto ini kian meningkat. Agar foto-foto terpilih tidak sekadar menggoda mata, tetapi juga memiliki kedalaman makna dan mampu menjadi saksi atas hal-hal tersembunyi. Agar segala jejak kegetiran, kesedihan, kebahagiaan, dan harapan dalam kurun setahun dapat dijadikan manuskrip pembelajaran.

Namun, celah ketidakpuasan pasti ada. Apalagi untuk sebuah kompetisi fotografi yang kodratnya selalu membuka ruang-ruang argumentasi. Apa pun itu, memilih pemenang dalam sebuah kompetisi merupakan keniscayaan. Begitu pula pada APFI 2016 kali ini.

Selamat untuk para pemenang, semoga capaian hari ini menjadi bekal untuk menggapai prestasi yang tinggi lagi esok hari. Kita sepakat, berpuas diri bukanlah pilihan. Kemenangan memang pantas dirayakan, tetapi ia kerap menjadi candu yang melenakan. Apalagi jalan menuju Indonesia sebagai magnet jurnalisme foto dunia masih panjang dan berliku. (Hariyanto)

Komentar