Spektrum Kehidupan

Selasa, 22 March 2016 20:21 WIB Penulis:

Buku merupakan salah satu penanda zaman. Setiap kelahirannya menorehkan jejak pada sejarah. Ia bukan penakar kadar kreativitas belaka, melainkan juga sebagai indikator kredibilitas para pembuatnya. Begitu pula galibnya pada penerbitan buku fotografi Spektrum Kehidupan. Sebuah buku yang menghimpun kembali kisah-kisah dalam rubrik foto Media Indonesia.

Pada rubrik yang terbit setiap edisi Minggu itu kita dapat 'menikmati' beragam lakon kehidupan. Ada kegetiran, kesedihan, kebahagiaan, dan tentu saja harapan. Mulai kisah anak-anak rimba di pedalaman hutan Sumatra hingga potret perempuan pekerja migran yang menyabung nyawa di negeri orang. Ada pula lakon jiwa-jiwa jelata yang bekerja tanpa pamrih demi kemajuan bangsa. Sebaliknya, potret buram keserakahan pejabat yang menggangsir uang negara bersama keluarganya juga kami tampilkan.

Beragam drama kehidupan itu kami bentangkan kembali dalam Spektrum Kehidupan melalui subtema kemanusiaan, pendidikan, politik, kebudayaan, dan lingkungan, dalam 47 cerita nyata di sekeliling kita. Buku ini mencuplik peristiwa menjadi bingkai-bingkai imaji yang tidak saja menampilkan fakta, tetapi juga meramunya dalam pendekatan fotografi dengan keunikan momen, angle, pesan, dan keartistikannya.

Itulah yang membuat kami, tim foto Media Indonesia, hari-hari ini dilingkupi rasa penasaran menunggu respons pembaca atas buku perdana yang kami terbitkan. Harapan kami tentu saja ingin buku tersebut dapat membangkitkan inspirasi, mengasah imajinasi, hingga akhirnya mampu menyalakan api kreativitas bagi pembacanya. Bahkan, memiliki daya untuk mengubah keadaan dan memengaruhi jalannya kehidupan.

Spektrum Kehidupan sejatinya merupakan ikhtiar kami dalam mengodifikasi karya-karya yang selama ini berserak di 'gudang' penyimpanan. Kami bertekad menyalin rupa serpihan itu menjadi sebuah mozaik bertutur bagai pahatan di dinding-dinding candi dan menjadi kolase visual fragmen kehidupan.

Inilah buku perdana wujud mimpi kami sebagai jurnalis foto. Buku yang menjadi catatan visual dan jejak bahwa kami tak hanya berdiam di ujung jalan. Buku yang menjadi buah pengembaraan kami melangkah menyusuri sudut-sudut kota, juga menyisir setiap jengkal tanah desa. Dari matahari belum lagi naik sejengkal hingga gelap malam.

Sastrawan besar Jerman Johann Wolfgang von Goethe mengungkapkan, "Mengetahui saja tidak cukup, kita harus menerapkannya; berkeinginan saja tidak cukup, kita harus bergerak. Jika mimpi ialah jiwanya, tindakan ialah raganya."

Kami amat berhasrat Spektrum Kehidupan mampu mengalirkan makna hingga menyentuh sisi terdalam rasa. Namun, kami menyadari bahwa makna pada fotografi, terutama fotografi jurnalistik, sejatinya membuka ruang-ruang argumentasi dan rupa-rupa tafsir. Makna juga merangsang sensitivitas rasa, kreativitas, dan kecerdasan seseorang. Ia membawa kekuatan kodrati fotografi yang bersifat otonom. Dari makna itulah kita dapat merasakan perayaan intelektualitas para pembuatnya.

Kami menyadari 'semua gading pasti retak'. Begitu juga Spektrum Kehidupan. Namun, kami juga meyakini, ini hanyalah prolog. Dengan segala keresahan, totalitas, serta pengabdian pada profesi dan institusi, kami akan terus mengembara hingga kelak bertemu epilog yang indah. (Hariyanto)

Komentar