Meramu Imajinasi

Rabu, 9 March 2016 19:45 WIB Penulis:

“Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution.”

Kata kunci dari warisan pemikiran Albert Einstein di atas ialah imajinasi. Dalam laku kehidupan, imajinasi lebih penting ketimbang pengetahuan. Jika pengetahuan bersifat terbatas, imajinasi justru melingkupi dunia tanpa batas. Ia tidak sekadar sebagai energi yang menggerakkan, tetapi juga merangsang kemajuan hingga melahirkan evolusi, bahkan revolusi.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi 'imajinasi' bermakna daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Makna lainnya ialah khayalan.

Jejak pemikiran Einstein itu sejatinya telah mengilhami banyak orang hebat di muka bumi ini. Kekuatan imajinasi mengantarkan mereka menghasilkan beragam karya dan penemuan penting di bidang seni, budaya, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Dayanya mampu menerabas sekat-sekat keterbatasan sekaligus membuka kian lebar gerbang-gerbang kebebasan.

Sang pencetus kata-kata itu sendiri, Einstein, banyak melahirkan penemuan amat penting bagi semesta dan kehidupan bermula dari kekuatan imajinasinya. Ia, misalnya, 'berkhayal' soal cahaya yang bisa dibelokkan oleh gravitasi. Lalu, seorang astronom dan ahli matematika Inggris, Sir Arthur Eddington, menguji kesahihan teori itu dan membuktikannya di Pulau Principe, pesisir barat Afrika, saat gerhana matahari total pada 29 Mei 1919. Eddington pun melakukan itu atas dorongan 'daya khayal'-nya.

Imajinasi juga bertalian erat dengan pekerjaan yang meletakkan tumpuan pada kreativitas, termasuk jurnalis foto. Tentu saja, bagi seorang jurnalis foto, imajinasi yang dikedepankan harus tetap berbasis pada fakta karena menyebarluaskan kabar pada tumpuan fakta ialah salah satu hukum besi jurnalisme.

Agar imajinasi membumi, seorang jurnalis foto wajib memiliki bekal kekayaan memori visual. Kekayaan itulah yang mengantarkannya dalam memilih teknik fotografi, komposisi, angle, dan pemaknaan fakta di depan mata. Oleh karena itu, melihat dan menikmati foto-foto karya fotografer berkelas menjadi keniscayaan.

Selain itu, jurnalis foto harus selalu bergumul dengan bahan-bahan bacaan, mulai membaca berita hingga kisah-kisah inspiratif dalam novel, ataupun dari mendengar beragam penuturan di acara bincang-bincang. Menonton film dengan mutu visual dan cerita yang tinggi pun demikian.

Semua itu selaras dengan apa yang pernah diungkapkan fotografer kondang Ansel Adams, “You don’t make a photograph just with a camera. You bring to the act of photography all the pictures you have seen, the books you have read, the music you have heard, the people you have loved.”

Ihwal lain yang juga harus melekat pada diri jurnalis foto yaitu memiliki ketajaman sensitivitas terhadap situasi sekeliling. Embrio sensitivitas dapat dipupuk dari lingkungan paling dekat, seperti keluarga, tetangga, teman, dan seterusnya.

Imajinasi seorang jurnalis foto juga lahir dari 'rahim' kedisiplinan melakukan pravisualisasi sebelum berkubang di medan liputan. Ia memperlakukan riset, pengamatan lokasi, dan pemahaman awal objek serupa napas yang akan memberi nyawa setiap karya yang dihasilkannya.

Benih-benih kreativitas akan tumbuh subur dari semaian rupa-rupa imajinasi. Ia menjadi roh bagi lahirnya karya-karya hebat dan menginspirasi. Itulah postulat penting dalam jagat fotografi. (Hariyanto)

Komentar