Kemenangan Rutte Pupuskan Populisme

Penulis: Haufan Hasyim Salengke Pada: Jumat, 17 Mar 2017, 10:38 WIB Internasional
Kemenangan Rutte Pupuskan Populisme

AFP/ANP/Remko de Waal

KEMENANGAN Volkspartij voor Vrijheid en Democratie (Partai Libe­ral) dalam pemilihan umum (pemilu) Belanda pada Rabu (15/3) waktu setempat, mengantarkan Perdana Menteri Mark Rutte kembali memimpin ‘Negeri Kincir Angin’ untuk ketiga kalinya.

Hasil penghitungan 93% suara menunjukkan partai Rutte memenangi 31 dari 150 kursi di parlemen dengan mudah, yakni menjadikan mereka pemegang kursi terbesar. Hasil positif itu menjadi pukulan keras bagi populisme yang tengah menguat di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Penantang utama Partai Libe­ral, Partij voor de Vrijheid (Partai untuk Kebebasan), yang dipim­pin politikus antipengungsi dan anti-Islam Geert Wilders, hanya mampu meraup 19 kursi.

Jutaan warga Belanda berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara yang hampir mencatat rekor tingkat partisipasi. Pemilu ini merupakan ajang pertarungan antara kalangan pro-Uni Eropa (UE) yang dipim­pin Rutte dan kaum populis dan anti-UE pimpinan Wilders.

Dalam pernyataannya, Rutte menyatakan kemanangan partainya menjadi momen yang baik bagi demokrasi di Belanda. Dia mengaku takjub dengan antusiasme pemilih. Tingkat partisipasi kali ini mencapai 81%, yang terting­gi dalam 30 tahun.

“Sekarang yang penting untuk dilakukan ialah menyatukan negara dalam beberapa pekan dan bulan mendatang dan berhasil membentuk pemerintahan yang stabil untuk empat tahun ke depan,” ujar Rutte kepada para pendukungnya.

Setelah referendum Brexit dan kemenangan Donald Trump di AS, pemilu Belanda dipandang berbagai kalangan sebagai acuan kekuatan populisme di ‘Benua Biru’, menjelang pemungutan suara penting lainnya di Prancis dan Jerman.

“Ini merupakan malam ketika warga Belanda, setelah Bre­xit dan pemilu AS, mengatakan ‘hentikan’ populisme yang tidak benar,” kata Rutte.

Para pemimpin Eropa, yang khawatir dengan menguatnya sentimen anti-UE di salah satu anggota pendiri blok ekonomi itu, mengekspresikan kelegaan terhadap hasil pemilu Belanda dan mengucapkan selamat kepada Rutte.

Kepala Komisi Uni Eropa Jean-Claude Juncker memuji hasil pemilu Belanda sebagai ‘pemilihan melawan ekstremis’.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault juga mengucapkan selamat kepada Rutte yang disebut telah menghentikan kebangkitan kaum sayap kanan.

Kekalahan Wilders
Sejarah terus berulang bagi tokoh antimigran, Geert Wilders. Meski unggul dalam jajak pendapat terakhir, Wilders akhirnya terjungkal juga. Dukungan terhadap partai pimpinan Wilders memudar dalam beberapa hari terakhir menjelang Pemilu 2017.

Merespons kekalahannya, Wilders mengatakan siap beker­ja sama dengan pemerintahan Belanda yang baru. Dia bersumpah­ untuk memainkan peran penting dalam politik Belanda di masa depan.

“Saya dan PVV tetap ingin akan berperan dalam kabinet, jika dimungkinkan. Namun, jika tidak, kami akan mendukung isu-isu yang penting bagi kami,” kata pria yang terjun ke dunia politik pada 1998 itu.

Dia pun mengucapkan selamat kepada Perdana Menteri Mark Rutte meski sebelumnya telah yakin akan menang. “Terima kasih pemilih PVV! Kita memenangi kursi!” kata Wilders dalam komentar di Twitter.

Dalam kampanye, Wilders berjanji akan menutup perbatasan untuk migran muslim, menutup masjid, melarang penjualan Alquran, dan membawa Belanda keluar dari UE jika ia memenangi pemilu. (AFP/Aljazeera/Ths/I-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More