Ekonomi Indonesia Berdaya Tahan Tinggi

Penulis: Administrator Pada: Selasa, 31 Jan 2017, 08:04 WIB Ekonomi
Ekonomi Indonesia Berdaya Tahan Tinggi

MI

Perekonomian Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi (resilient) di tengah situasi perekonomian dunia yang tidak menentu. Krisis ekonomi yang menghantam berbagai belahan dunia tidak menyurutkan posisi Indonesia untuk terus tumbuh.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat memberikan kuliah umum menyambut hari ulang tahun ke-47 Media Indonesia pada Kamis (19/1) lalu menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu menempati urutan ketiga tertinggi di bawah India dan Tiongkok.

Sri Mulyani memaparkan bahwa dalam satu dekade terakhir bisa dikatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil. Padahal dalam periode 2006 sampai 2016, di tengah-tengah itu sebetulnya terjadi krisis dunia, yakni 2008-2009. Sri Mulyani memberikan perspektif satu dekade guna menunjukkan bahwa Indonesia memiliki komposisi ekonomi yang memiliki daya tahan.

Dalam situasi-situasi penuh turbulensi baik karena faktor keuangan global atau faktor perdagangan internasional yang melemah Indonesia punya kemampuan daya tahan menjaga kinerja perekonomian mereka. Daya tahan itu ialah aset yang berharga.

Untuk 2017, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan mencapai pertumbuhan 5,1% berdasarkan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017. Pemerintah memahami di luar pemerintah ada banyak proyeksi. Bahkan dalam hal ini, BI yang masih bagian dari pemerintahan juga punya proyeksi antara 5%-5,4%. Lalu World Bank 5,3% karena masih lebih optimistis dalam beberapa faktor dan ada consensus forecast untuk 2017 ialah 5,2%.

Ekonomi selalu dibagi menjadi sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan, itu menjadi motor penggerak. Biasanya pemerintah bisa memengaruhi dengan menggunakan instrumen kebijakan. Komposisi permintaan dari perekonomian Indonesia sama dengan negara lain, yakni konsumsi. Konsumsi menjelaskan 58,3% dari seluruh perekonomian Indonesia. Sebagai perbandingan di negara maju bisa 60%-70% ialah konsumsi dari rumah tangga atau household.

Investasi, sebagai sisi permintaan kedua, dilakukan sektor produksi yang dalam melakukan ekspansi atau dalam kegiatan produksinya menjelaskan 29,7%. Lainnya ialah pemerintah 9,1% serta sisanya ekspor minus impor.

Dalam 10 tahun terakhir drive konsumsi Indonesia mendekati 5%. Untuk 2016, kuartal ketiga yang sudah keluar angkanya adalah 5,0%. Itu menggambarkan bahwa Indonesia memiliki daya tahan dari sisi motor penggerak sisi permintaan.

Sebagaimana negara-negara Asia lainnya, Sri Mulyani menjelaskan, Indonesia juga termasuk yang cukup besar mengandalkan pasar global. Kisah sukses Tiongkok yang dalam tiga dekade bisa berubah dari negara miskin menjadi negara kelas menengah atas karena menggunakan pasar global sebagai salah satu pusat pertumbuhan melalui ekspor impor menjadi bukti pentingnya pasar global.

Selama satu dekade pertumbuhan ekspor dan impor Indonesia sekitar 5%. Presiden Jokowi terpilih saat global environment mengalami perubahan yang cukup signifikan dengan puncak yang disebut supply chain tidak lagi mengalami pertumbuhan besar seperti dekade yang lalu.

Menjaga confidence
Sri Mulyani memaparkan bahwa besar peran pemerintah bila diukur dari produk domestik bruto (PDB) hanya 9%. Namun, peran pemerintah tidak hanya penting dari sisi size APBN melalui konsumsi maupun investasi di bidang infrastruktur. Pemerintah juga memiliki pengaruh yang cukup besar melalui kebijakan. Itu dua hal yang harus terus-menerus dilakukan di dalam pemerintahan.

Selama ini pertumbuhan konsumsi pemerintah ialah 6,3%. Khusus untuk 2016, kuartal tiga mengalami negative growth karena terus melakukan beberapa penyesuaian dari APBN 2016 dan sudah ditutup 31 Desember lalu. Tujuannya menjaga confidence terhadap instrumen APBN.

Pemerintah secara serius memetakan faktor yang menjadi penyebab di dalam negeri dan apa faktor yang tidak bisa dikontrol, tapi dampaknya bisa diminimalkan ke ekonomi. Itu alat untuk bisa selalu mendesain policy yang bisa responsif sehingga tahu secara persis apa penyebab satu masalah sehingga tidak salah mendiagnosisnya dan tidak salah dalam membuat reaksi.

Saat ini dari sisi eksternal ekspor dan impor serta cadangan devisa, Indonesia berada di posisi yang cukup nyaman. Bila dilihat, cadangan devisa terus berada di atas US$100 miliar dengan ekspor dan impor yang selalu kita buat imbang. Yang paling penting ialah capital inflow atau arus modal karena mereka percaya terhadap prospek dan stabilitas ekonomi Indonesia.

Lebih lanjut Sri Mulyani menjelaskan apabila semua orang memiliki kepercayaan atau confidence terhadap perekonomian Indonesia, harga surat utang Indonesia menjadi tinggi. Artinya suku bunganya menjadi rendah karena semua orang ingin memegang surat utang RI. Itu sesuatu yang disebut confidence have the value.

Di dalam konsep keuangan negara sangat jelas bahwa bila orang punya confidence harga surat utang kita tinggi, suku bunganya turun. Itu berarti beban kita menjadi lebih rendah. Ini sesuatu yang harus terus diperbaiki dalam pengelolaan, terutama karena telah terjadi banyak perbaikan dalam institusi. (B-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More