Samurai dalam Imaji Jawa

Penulis: Ardi Teristi Hardi Pada: Minggu, 22 Jan 2017, 08:00 WIB Tifa
Samurai dalam Imaji Jawa

MI/ARDI TERISTI HARDI

SESOSOK Samurai keluar dari balik shoji. Ia mengenakan pakaian hakama merah lengkap dengan wakizashi (pedang samurai) dan gaya rambut chonmage.

"Saya Takamori Sakate, adalah anak turun Saigo Takamori. Tak akan kucelakan nama leluhur saya dalam menjunjung dan membela tinggi kehormatan dalam kehidupan," tegas sang samurai memperkenalkan diri.

Saigo Takamori, sosok yang sangat patuh, tunduk pada aturan kehidupan dan menjunjung tinggi kehormatan hingga akhir hayat. Bagi samurai, kehormatan sangat penting. "Kehormatan tidak bisa diambil dengan lunak. Kehormatan perjuangan sekujur hidup hingga maut memutuskan menjemput," tegas sang samurai.

Sosok Takamori yang diperankan Yustinus memang terlihat tidak lagi berusia muda. Namun, jiwa samurainya tak pupus. Kehormatan menjadi kata yang sangat sakral dan tidak bisa ditawar. Karena kehormatan itu pula, sosok yang mengaku Takamori tersebut keluar dari pekerjaannya. Ia tak rela disuruh-suruh dan dihina atasannya. "Ketika dia menghinakan saya di bawah prajurit rendahan, itu urusan saya. Saya memutuskan keluar dari tuan besar saya dan memutuskan untuk mandiri," kata Takamori.
Tiba-tiba suara perempuan memotong monolog sang samurai.
"Biyang," kata sang perempuan.

Sebenarnya suara perempuan tersebut sudah berulang-ulang kali keluar. Namun, suara perempuan yang kesekian kali ini yang membuat Takamori lunglai. Lelaki berpakaian samurai itu lalu melepaskan hakama yang dikenakan dan meletakkan wakizashi. "Sudah saatnya saya melepaskan baju keaktoran saya," kata sang samurai. Lelaki yang sebelumnya memperkenalkan diri sebagai seorang samurai tersebut ternyata seorang lelaki Jawa yang terlalu terobsesi pada sosok samurai.

Suara perempuan itu, yang tak lain adalah sang istri, telah membuyarkan imajinasinya sebagai seorang samurai. Lelaki itu tidak dapat mengelak dari sunyata yang ada, ia seorang suami dan seorang ayah yang harus mencukupi berbagai kebutuhan keluarganya. Kegagahan seorang samurai pun hanya ada dalam bayangannya. "Jangan sembunyi dari persoalan hidup. Walah, mbok bangun dari mimpi-mimpimu. Kamu terlalu banyak nonton film dan baca buku tentang samurai," suara keras sang istri.

Pentas monolog

Cerita tentang samurai tersebut merupakan bagian dalam pertunjukan teater monolog plus berjudul Samurai Sakate yang ditampilkan Yustinus Yantoro di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (19/1) malam.

Penampilan sekitar 44 menit tersebut disebut monolog plus karena Yantoro tidak tampil sendiri, tapi ada tiga aktor lain yang juga tampil di atas panggung sebagai penguat cerita.

Yantoro menyebut naskah yang ditulis Whani Darmawan sangat kuat dalam pergulatan batin. Drama ini bercerita tentang seorang laki-laki yang terobsesi pada Samurai, tapi harus berdamai dengan kenyataan yang ada.

"Laki-laki ini (yang diperankan) mudah tersinggung. Kalau gampang tersinggung efeknya sangat negatif sekali, jadi sulit maju," kata pria yang akrab disapa Yan Jangkrik tersebut. Sebagai pribadi, Yan mengaku juga mengagumi sosok samurai yang sangat disiplin dan menjaga kehormatan. Ia pun merasa puas dapat kembali menggeluti seni peran di tengah kesibukannya sebagai seorang wirausaha t-shirt. Setelah sukses mementaskan Samurai Sakate, Yan berniat akan terus menggeluti dunia keaktoran.

"Teater mendewasakan saya membuat hidup lebih hidup," kata dia.
Bagi penulis naskah Whani Darmawan, Yan Jangkrik memberi inspirasi tentang sikap disiplin dan komitmen dengan diri sendiri. Artinya, ada proses pembangunan dan pembelajaran dalam diri sendiri untuk terus-menerus selama hidup dalam merawat talenta kemanusiaan yang dimiliki.

Di usianya yang hampir menginjak 59 tahun, Yan tetap bersemangat untuk berkreasi. "Menjadi tua adalah takdir, menjadi tak berdaya adalah hal yang sebaiknya dilawan dalam upaya," kata Whani.
Sementara itu, bagi Landung Simatupang, aktor senior yang juga pernah berkreasi bersama Yantoro, tema pertunjukan yang ditampilkan dekat dengan situasi yang dihadapi kebanyakan orang, terutama yang bergelut di dunia keaktoran.

"Pertunjukan ini menjadi renungan. Sering kali terjadi benturan antara idealisme yang ingin dicapai sebagai individu dan kewajaran-kewajaran selaku kepala keluarga," kata Landung seusai pementasan.

Menurut dia, tidak seperti yang ditampilkan dalam pertunjukan Yang Jangkrik akan terus ada dan berjalan sepanjang manusia diciptakan. Terkait dengan penampilan Yan Jangkrik, Landung menilai jauh lebih matang. "Ada militansi untuk memelihara jiwa kesenian," kata dia. Menurut Landung, dengan militansi, orang dapat terus berkesenian tanpa peduli dengan usia. Ada berbagai jenis pergelaran yang bisa disesuakan dengan kondisi orang itu. (M-2)


 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More