Menyulap Nasib Pesulap

Penulis: (Fik/M-6) Pada: Sabtu, 07 Nov 2015, 00:00 WIB Ekonomi
Menyulap Nasib Pesulap

DOK. ALAKAZAM ENTERPRISE

SETAHUN setelah menggeluti sulap pada 2007 di Bandung, Gunggi Giannaskaf, 28, bergabung dengan sebuah manajemen artis sulap ternama, Denny Darko. Bersama Darko Enterprise, Gunggi mulai menghibur dalam berbagai event dengan keahliannya melakukan sulap mentalis. Selain menghibur, Gunggi dan rekan-rekan pesulap lainnya yang bergabung dalam Darko Enterprise menggantungkan hidup dari bermain sulap. Semakin lama, naluri bisnisnya semakin terasah. Gunggi rupanya jeli melihat peluang.

Dua tahun berjalan, akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka manajemen sulap sendiri. "Karena di manajemen artis yang dijual hanya artis sulap yang sudah punya nama saja," keluhnya mengawali perbincangan dengan Media Indonesia, awal pekan lalu. Sebelum membulatkan tekadnya membuka manajemen artis sulap sendiri, ia sempat mencari manajemen artis lain yang bisa menjual jasanya. Namun, kenyataannya itu tidak semanis yang dibayangkan.

Harapannya sirna lantaran para manajemen artis yang ia temui merasa kebingungan untuk menjual sulap setara dengan artis penghibur lainnya. Akhirnya pada 2014 Gunggi bersama satu temannya, Rifqi R Sukmana, 24, mengumpulkan sejumlah pesulap berbakat di Bandung. Di awal 2015, mereka pun membuka manajemen artis sulap bernama Alakazam. Sejak awal terbentuk, Alakazam memfokuskan diri untuk menyasar target helatan perusahaan.  "Selama ini sulap hanya digunakan sebagai pengisi waktu kosong di sela-sela artis utama. Ternyata di event corporate sulap bisa menjadi bintang tamu utama," ungkapnya.

Agar tidak membuang waktu, mereka berdua mencari pesulap yang sudah menguasai kemampuannya, bukan yang sedang belajar. Mereka mencari ke komunitas-komunitas sulap. "Sampai sekarang ada 10 magician, Tarot, dan ilusionis. Mereka ada di Bandung dan di Jakarta," lanjutnya. Mulai tahun depan, menurut rencana, Alakazam akan berbasis dan bergerak di Jakarta. Kepindahan tersebut bukan tanpa alasan. Gunggi dan Rifqi ingin pindah ke Ibu Kota lantaran banyak helatan perusahaan yang berlangsung di sana.

"Sejak awal kami memang sudah mantap menyasar pasar helatan perusahaan. Karena saya pikir sulap itu unik, setelah saya gali lagi ternyata bisa menyampaikan pesan perusahaan dengan cara yang berbeda. Kalau entertainer lain pesannya kurang sampai. Kalau lewat sulap bisa disampaikan dengan visual lebih baik lagi," jelasnya. Dalam sebulan, seluruh artis Alakazam bisa meraup untung lebih dari Rp100 juta.  Setiap pekerjaan yang datang dari manajemen, maka honor yang didapat pesulap akan dipotong 15%-20%.

Sistem itu umum diterapkan di hampir seluruh manajemen artis lainnya. Potongan tersebut digunakan untuk menyediakan perlengkapan ketika sang pesulap nanti tampil. Menyoal peluang usaha, menurut Gunggi, di Indonesia belum banyak yang fokus untuk helatan perusahaan. Rata-rata untuk hiburan saja. Sayangnya, sulap dalam hiburan hanya menjadi pelengkap acara saja. Jika dirunut, hanya ada beberapa manajemen sulap besar seperti Denny Darko, Demian Aditya, dan Deddy Corbuzier.

"Tidak ada persaingan di antara manajemen artis sulap, mungkin karena kami masih sedikit. Kami masih sering nongkrong bareng dan kami saling kenal satu dengan yang lainnya," ujar Gunggi. Lewat Alakazam, mereka juga ingin mengedukasi para klien, penonton, dan masyarakat penikmat sulap bahwa keterampilan ini tidak hanya menjadi pelengkap hiburan saja, tapi juga bisa menjadi jantung sebuah pertunjukan. "Sejauh ini berhasil, sudah ratusan perusahaan memakai jasa manajemen Alakazam," ucap pria kelahiran Padang itu optimistis.

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More