Hijaunya Hutan Pendidikan

Penulis: Suryani Wandari Pada: Minggu, 11 Des 2016, 03:00 WIB Weekend
Hijaunya Hutan Pendidikan

MI/Tiyok

PAGI itu saat matahari belum terbit, kami Satrio Daniel Botka dan Michelle Maverick sebagai Reporter Cilik Media Anak sudah pergi membelah Kota Jakarta menuju luar kota. Jumat (2/12) kami melakukan perjalanan cukup jauh untuk liputan lo. Berangkat pukul 04.00 dari Jakarta, kami sampai kira-kira pukul 08.00. Mau ke mana ya kita?

Kami akan liputan sambil bertualang ke Holcim Educational Forest yang terletak di daerah Cibadak, Sukabumi, di Jawa Barat nih sobat. Asyik! Baca terus petualangan kita menjelajahi tempat ini ya.

Hutan Bekas Tambang

Holcim Educational Forest merupakan hutan pendidikan milik PT Holcim Indonesia Tbk, salah satu perusahaan semen terbesar di dunia yang bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam pengelolaan lahan bekas tambang untuk membangun sebuah hutan pendidikan. Ya, dulunya hutan ini tempat penambangan untuk mengambil material dari dalam bumi berupa batuan kuarsa.

Sobat medi tahu apa itu kuarsa? Kuarsa adalah salah satu mineral yang memiliki struktur kristal heksagonal yang terbuat dari silika trigonal terkristalisasi (silikon dioksida, SiO2), dengan skala kekerasan Mohs 7 dan densitas 2,65 g/cm. Batuan kuarsa ini merupakan bahan untuk dijadikan semen.

Penambangan ini berjalan selama 35 tahun, dimulai sejak 1975 sampai November 2010, tapi telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan lo. "Penurunan estetika bentuk permukaan bekas penambangan, formasi lignite yang terbuka menyebabkan air asam tambang dan tingkat erosi yang tinggi dan potensial untuk longsor di beberapa lokasi merupakan dampak yang dihasilkan dari pertambangan," kata Pak Human Wicaksono, Project Manager Holcim Educational Forest.

Holcim memutuskan tidak memperpanjang izin usaha penambangan (IUP) silika quarry pada awal 2010. Manajemen Holcim memiliki komitmen untuk menjaga lingkungan hidup dan memenuhi peraturan yang berlaku. Ya, dengan begitu pengembangan hutan ini ditujukan untuk mewujudkan pengelolaan lahan pascatambang secara berkelanjutan untuk mendukung fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.

Dilapisi tanah

Saat kami berkeliling sudah tak ada lagi terlihat bekas penambangan, hutannya sudah ditumbuhi rumput bahkan berbagai pohon yang terbilang tinggi. Padahal menurut Pak Human, di awal reklamasi, tanah di area ini tidak bagus, penanaman pohon juga tidak mudah sehingga perlu alat berat untuk membuat lubang lo.

Pak Human pun menjelaskan dulunya tempat ini gersang dengan batuan kuarsa besar di permukaannya, di berbagai tempat bahkan batuan ini sudah diledakkan untuk diambil menjadi material semen. Pasti sobat medi bingung kan mengapa bisa menjadi hutan?

Sebenarnya batuan-batuan itu masih ada sobat, tapi karena dijadikan hutan, harus ditumbuhi banyak tanaman. Namun, tanaman tentu tidak akan tumbuh dari batu. Maka area yang luasnya 70 hektare ini dilapisi tanah yang bagus setebal 1 meter lo sobat. Sebelum menanam pohon, tanahnya mesti diteliti dahulu. Jenis pohon ditanam berdasarkan jenis tanahnya yang cocok untuk tanaman tersebut. Bila tanahnya subur sebaiknya ditanam pohon yang berbuah sehingga nantinya buahnya bisa bermanfaat, seperti pohon bintaro, matoa, kenari. Perkembangan pertumbuhan pohon juga dipantau. Biaya pembuatan hutan ini juga tidak murah dan juga tidak semua pohon memberi manfaat ekonomis, hanya untuk koleksi.

Kolam dari endapan kuarsa

Menyusuri hutan menggunakan mobil, kami melihat banyak sekali tumbuhan, ada pula aliran sungai kecil dari atas loh sobat, cantik sekali. Kami pun memperhatikan tanaman yang tumbuh berbeda meskipun ditanam berbarengan. "Yang ini selain tanahnya bagus, ada pemberian pupuk juga, jadi tanamannya pun cepat tumbuh dan besar dibandingkan tanaman jenis sama yang tadi kita temui," kata Pak Human menjelaskan satu per satu tanamannya.

Tak terasa kami pun sampai di puncaknya. Pak Human mengajak keluar dari mobil dan melakukan hiking untuk melihat pemandangan yang sangat indah dari atas bukit. Di sana banyak sekali pepohonan pinus. Kami dapat melihat hampir seluruh hutan dan perdesaan di bawah kaki bukit. Melanjutkan perjalanan, kami sampai di kolam yang dulunya tempat mengendapkan batuan kuarsa yang telah diledakkan.

Kolam ini terbentuk alami dan sangat cantik, terdapat bebatuan besar. Kami pun memanjat batu tersebut lo. Tanpa bantuan alat seperti tali ataupun pengaman, kami harus berhati-hati agar tidak jatuh. Saat sampai di ujung bebatuan, kami mengamati kolam hasil pengendapan lumpur itu. Setiap tiga bulan sekali, lumpurnya dibersihkan hingga airnya menjadi jernih.

Kolam itu airnya mencapai tingkat keasaman 8, artinya air itu baik untuk diminum. Ada juga danau lain yang zat keasamannya 4 ph, artinya air itu tidak boleh untuk diminum karena banyak mengandung logam bebatuan. Kata Pak Human, bila beruntung kami bisa menjumpai binatang seperti babi hutan, tupai, musang, hingga kelelawar.

Seru sekali kami bisa berkunjung ke Hutan Pendidikan Holcim. Aku ingin sekali, suatu hari nanti bisa mengunjungi kembali bersama keluarga dan teman-temanku, pasti akan menjadi petualangan yang seru dan menyenangkan juga. Kalian juga mau kan sobat? (Suryani Wandari/M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More