Agar Rupiah Eksis di Penjuru Negeri

Penulis: Zat/M-2 Pada: Minggu, 11 Des 2016, 02:30 WIB Weekend
Agar Rupiah Eksis di Penjuru Negeri

MI/Iis Zatnika

UANG-UANG kertas Rp1.000 yang disusun rapi dan diikat karet itu, buat warga Indonesia yang bermukim tak jauh dari pusat-pusat pemerintahan, sungguh tak lazim. Lusuh, dengan robekan kecil di sana-sini. Berbeda dengan uang kertas rusak lazimnya, yang umumnya sobek atau ternoda tinta dan kotoran, tumpukan rupiah itu tampak sangat rusak karena telah lama digunakan, berpindah dari satu tangan ke tangan lain, tanpa sempat diganti dengan lembaran yang baru.

Bukan cuma uang bergambar Tuanku Imam Bonjol itu saja, ada pula Rp10 ribuan dengan wajah Sultan Mahmud Badaruddin II hingga Rp20 ribuan di meja yang pagi itu sengaja ditempatkan di teras Bank Riau Kepri di Kelurahan Tarempa, Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (16/8) itu. Dua petugas menghitung dengan teliti uang-uang itu dengan tangan. Tentu saja karena helaiannya dikhawatirkan sudah rapuh sehingga akan rusak jika ditempatkan di mesin penghitung.

"Yang Rp5.000 ada 10 lembar, Rp10 ribu 2 lembar, dan Rp20 ribu 2 lembar ya Pak. Mau ditukar dengan pecahan berapa?" kata petugas dengan rompi cokelat bertuliskan Bank Indonesia yang hari itu dikawal petugas kepolisian dengan senapan laras panjang di dekatnya itu.

Lalu, uang baru, dengan helaiannya yang keras, permukaan kesat dan tentunya gambar yang teramat bersih, berpindah dari tangannya ke bapak yang berdiri paling depan antrean Layanan Kas Keliling Bank Indonesia itu.

10 jam berlayar

Antrean warga Tarempa sedikitnya sepuluh orang itu menambah kesibukan pada hari menjelang perayaan hari kemerdekaan lalu. Ada warga yang mempersiapkan karnaval dan aneka lomba, tetapi sebagian menyempatkan diri pulang dulu ke rumah untuk membawa serta uang yang buruk rupa untuk ditukar. Di pagi harinya, bahkan sebelum Kantor Bank Riau Kepri itu buka, petugas dengan pengeras suara sudah beredar hingga ke pasar mengumukan kegiatan penukaran itu. Bahkan, hingga siang, pengumuman tetap disebarkan. Petugas hilir mudik sehingga antrean pun kian panjang.

"Kami datang khusus dari Tanjung Pinang, berlayar hingga 10 jam untuk datang ke sini. Ini kegiatan rutin yang diselenggarakan di penjuru Nusantara, termasuk di kepulauan yang sebagian besar uangnya telah rusak. Mereka bisa menukarnya agar tetap bisa bangga pakai rupiah, apalagi buat mereka di perbatasan," kata Pak Priyono, petugas Bank Indonesia kepada Medi.

Di daerah terpencil, kepulauan dan perbatasan, kata Pak Priyono, peredaran uang memang dibatasi kondisi geografis. Uang cenderung hanya akan beredar terus-menerus di sana, dengan kemungkinan masuknya lembaran baru dari luar wilayah yang sangat kecil.

Medi pun teringat pada pengalaman saat jalan-jalan ke Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), dua bulan sebelumnya. Alor termasuk dalam daftar pulau-pulau terluar di Indonesia. Kondisi uang kertas di sana pun serupa. Medi bahkan sempat menolak uang kembalian yang diberikan pedagang dan terheran-heran melihat tumpukan uang kertas di dompetnya. Wah, ternyata memang uangnya sudah lusuh semua ya!

Alor juga masuk daftar rutin kegiatan penukaran uang rupiah yang menuliskan kata gratis besar-besar di posternya pada peringatan hari kemerdekaan.

Eksis di perbatasan

Pelayanan yang diberikan Bank Indonesia untuk memastikan rupiah tetap eksis di penjuru Nusantara itu juga dilakukan di Atambua. Pada Senin (17/10), sebelum meliput Festival Crossborder Atambua, Medi yang jalan-jalan melihat kesibukan warga di pagi hari melihat uang yang memang tak terlampau mulus, tetapi berwujud rupiah, berpindah dari tangan kasir di Toko Gajah Mada kepada para petani.

"Sekarang rupiah makin eksis, dulunya masih campur baur dengan dolar. Toko yang membeli kemiri, biji asam, hingga madu seperti Gajah Mada ini memberikan rupiah untuk petani dan mereka menggunakannya untuk berbelanja lagi di pasar," kata Pak Timothy, petugas di Pos Lintas Batas Negara Atambua. Yuk, cintai rupiah!

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More