Hantu Baik dari Pontianak

Penulis: Aries Munandar/M-1 Pada: Minggu, 04 Des 2016, 03:15 WIB MI Anak
Hantu Baik dari Pontianak

MI/Aries Munandar

HANTU bagi kebanyakan orang ialah sosok menakutkan. Akan tetapi, itu tidak berlaku bagi Pak Romy Hernadi. Di tangannya hantu justru tampak menarik bahkan lucu dan menggemaskan.

Mereka juga tidak usil terhadap manusia, apalagi mencelakakan. Itu karena para hantu juga memiliki perasaan dan pikiran selayaknya manusia.

"Di sini yang jahat justru manusia. Mereka yang malah sering mengganggu kehidupan hantu," kata Pak Romy saat ditemui Media Indonesia di arena Kalbar Book Fair 2016, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (29/10).

Keren dan modis

Hantu yang dimaksud ini memang bukan hantu sebenarnya, melainkan karakter komik semata.

Para hantu itu digambarkan memiliki sifat, perilaku, dan keseharian seperti manusia. Mereka bisa sedih, gembira, kesal, bahkan marah.

Para hantu itu pun memiliki sifat humanis sehingga bisa berempati dan bersolidaritas terhadap sesama.

Tampang penghuni alam gaib tersebut juga jauh dari menyeramkan karena diilustrasikan seperti sosok manusia biasa. Wajah mereka pun digambarkan beragam sesuai kebangsaan atau etnik.

Ada yang bertampang Eropa, Asia Timur, hingga berwajah khas Indonesia. Para hantu itu mengenakan beragam busana modern.

Pak Romy memang sengaja mengangkat kehidupan para hantu sebagai tema umum dalam setiap karyanya. Ada pesan edukasi yang ingin disampaikan kepada anak-anak sebagai pembaca melalui komik tersebut. Dia ingin memupus mitos.

"Agar anak-anak tidak takut lagi dengan hantu," ujar lulusan terbaik Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung tersebut.

Komikus Pontianak ini telah menerbitkan sekitar 150 judul komik selama tujuh tahun berkarier.

Romy memilih gaya Jepang alias manga dalam desainnya untuk menyesuaikan selera pasar. Komiknya pun cukup laris sehingga ada yang diterbitkan lebih dari 20 seri, bahkan dicetak ulang oleh penerbit di Bandung.

Langka

Selain menarik, komik seperti ini juga terbilang langka karena relatif belum banyak pemainnya. "Komik manga kebanyakan untuk remaja. Makanya, saya mengambil segmen anak-anak untuk menghindari persaingan dengan komik dari Jepang," jelas tim desain komik film The Raid itu.

Pak Romy rata-rata memproduksi dua judul komik setiap bulan guna mengimbangi permintaan pasar.

Gaya manga membuat karakter hantu dalam komiknya terlihat lebih elegan dan trendy daripada komik bertemakan serupa. "Kalau karakternya kaku dan seram, anak-anak malah jadi malas bahkan takut membacanya," lanjutnya.

Komikus produktif versi penerbit Mizan dan Curhat Anak Bangsa (CAB) itu tidak bekerja sendirian.

Pak Romy berbagi peran dengan Ibu Assyifa Sekar Arum, kawan seangkatan sewaktu kuliah yang kini menjadi istrinya.

Legenda

Perempuan 26 tahun itu bertugas sebagai penulis naskah. Kolaborasi ini dibangun seiring dengan perjalanan karier Pak Romy sebagai komikus.

"Pernah bekerja sama dengan komikus (ilustrator) lain, tapi kadang susah nyambung komunikasinya," kata Assyifa.

Ketertarikan Pak Romy dan Ibu Assyifa mengangkat cerita hantu juga tidak lepas dari legenda berdirinya Kota Pontianak, yang sering dikaitkan dengan kuntilanak. Menurut mereka, legenda tersebut berpotensi mengangkat industri pariwisata lokal. "Tinggal di-branding ulang, seperti lokasi wisata kota hantu di Jepang," pungkas Pak Romy.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More