Kerennya Sabetan para Dalang Cilik

Penulis: (Suryani Wandari/M-1) Pada: Minggu, 27 Nov 2016, 02:00 WIB MI Anak
Kerennya Sabetan para Dalang Cilik

DOK SURYANI WANDARI

DIIRINGI alunan musik, wayang kulit itu bergerak lincah bagaikan hidup. Dialog dan kepiawaian gerakan tangan atau dalam dunia wayang disebut sabetan itu menjadi tontonan seru di Museum Wayang, Sabtu (19/11). Istimewanya lagi, pergelaran wayang itu merupakan bagian dari Festival Dalang Bocah 2016 dan Festival Dalang Muda 2016 Tingkat Nasional yang menjadi ajang kompetisi yang mengadu kepiawaian para pegiat seni belia dan muda.

Festival itu diselenggarakan pada 17 hingga 20 November 2016 di Museum Seni Rupa dan Keramik serta Museum Wayang di kawasan Kota Tua Jakarta. Sesuai dengan namanya, Festival Dalang Bocah diikuti 28 pedalang anak yang kriterianya ialah siswa SD dan SMP. Yuk cari tahu aksi merek

Wayang diakui UNESCO
Dalam festival ini, jenis wayang yang dilombakan ialah wayang kulit Purwa, Gagrak Surakarta, Yogyakarta, Jawa Timuran, wayang Banyumasan, wayang kulit Cirebonan, wayang Menak Sasak, wayang golek Purwa, wayang kulit Indramayu, wayang Banjar, dan wayang kulit Betawi. Semuanya dibawakan dengan teknik berbeda, mulai bahasa, dialek, jenis wayangnya, musik, hingga unsur humor dalam ceritanya.

Ya, lelucon yang dibawakan dalam pertunjukan wayang ialah salah satu aksi yang paling ditunggu-tunggu. Kendati jenis wayangnya berbeda, semua dalang anak hanya boleh memilih kisah Anoman Duta atau Gatotkaca Lair. “Anoman duta itu menceritakan sosok Anoman yang diutus Prabu Rama untuk menyerahkan cincin kepada Ratu Sinta, serta memberantas kejahatan di kerajaan Alengka,” kata Irfan, kelas 9 SMP Wahid Hasyim Surabaya, Jawa Timur. Sementara itu, Gatotkaca Lair menceritakan lahirnya Gatotkaca.

Harus fokus
“Wayang diharapkan akan menjadi sarana pendidikan budi pekerti anak bangsa dalam mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain,” kata Bapak Kondang Sutrisno, Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Pusat. Selain itu, festival ini diselenggarakan untuk merangsang dalang belia agar terus mengasah teknik dan agar regenerasi dalang tetap terjaga. “Ini juga ajang silaturahim antardalang bocah se-Indonesia serta menjaring bibit-bibit generasi penerus di masa depan. Anak-anak yang menonton pun akan mendapat pemahaman dan bahkan mencintai wayang,” lanjut Pak Kondang.

Tahukah sobat, mempelajari wayang pun sangat bagus untuk perkembangan otak kanan kita, lo. Anak-anak yang mendalami seni wayang, baik belajar mendalang maupun memahaminya lebih dalam kendati hanya sebagai penyuka, akan belajar tentang pengendalian emosi. Kita harus sabar menghafalkan nama tokoh, tempat, dan alur ceritanya. “Jadi dalang itu harus fokus, kita mesti menyesuaikan dengan karawitan atau musik, memikirkan jalan cerita dan sabet pada wayang,” kata Aditya Nugraha, kelas 9 SMP N 3 Palangkaraya yang Medi jumpai.

Tak hanya sabetan, hal yang harus diperhatikan pun berupa catur atau perkataan, otowacono atau intonasi, dokdokan atau ketukan, hingga sulukan atau tembang. Semua teknik itu dipertontonkan para dalang kepada penonton dalam pergelaran Anoman Duta. Kisahnya dimulai ketika tokoh Anoman diutus Raja Rama untuk memberikan cincin sebagai tanda cintanya kepada Ratu Sinta. Dalam perjalanannya ke Kerajaan Alengka, tempat Ratu Sinta berada, Anoman dihadang. Pertempuran pun terjadi.

Anoman bertarung melawan kejahatan dan menilai kekuatan Kerajaan Alengka. Dalam pertempuran ini, Anoman berhasil mengalahkan lawannya hingga Kerajaan Alengka pun segan terhadapnya. Seru ya ceritanya! (Suryani Wandari/M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More