Konflik Agraria di Langkat, Aparat Kepolisian Gusur Lahan Petani

Penulis: Micom Pada: Minggu, 20 Nov 2016, 08:34 WIB Nusantara
no-image.jpg

KEKERASAN terhadap petani masih berlanjut. Lahan petani di Desa Mekar Jaya Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, digusur pihak Kepolisian Resor Langkat dan TNI dari Linud Raider dengan mengerahkan 1.500 personel.

Adapun penggusuran lahan milik petani dilakukan dengan menggunakan puluhan alat berat pada Jumat (18/11). Akibat penggusuran tersebut beberapa petani mengalami luka berat dan ringan.

Ketua DPC Serikat Petani Indonesia (SPI) Langkat, Suriono, menjelaskan, sudah berulang kali aparat kepolisian berupaya melakukan penggusuran, tapi tidak terjadi lantaran pihaknya berhasil menjelaskan duduk perkara atas konflik tanah mereka.

“Sebelum melakukan penggusuran, kita sudah sampaikan kepada pihak kepolisian agar masalah ini dibawa ke Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Langkat untuk meminta kejelasan langkah penyelesaian. Kita juga meminta agar semua personel kepolisian meninggalkan lahan karena menyebabkan petani dan warga setempat ketakutan,” katanya di Langkat, Sabtu (19/11).

Namun, lanjut Suriono, tanpa mempertimbangkan penjelasan dari pihaknya, aparat kepolisian yang dipimpin Kabag Ops Polres Langkat tetap melakukan penggusuran dan meratakan lahan pertanian dan perumahan petani. Tidak hanya itu, personel polisi mengejar petani sampai kampung dan salah seorang petani anggota SPI Basis Desa Mekar Jaya atas nama Sadikun ditangkap.

Menurut Suriono, upaya penggusuran memang sempat dihalang-halangi oleh petani tapi pihak kepolisian tidak memedulikan, malah melakukan kekerasan dan pengusiran terhadap petani dengan memukul dan menendang. Akibatnya beberapa anggota petani termasuk anak kecil menjadi korban.

Adapun petani yang menjadi korban yaitu Sadikun yang mengalami penangkapan dan luka lebam di wajah (kabar terakhir dilepas), Zulkifli yang mengalami pecah kepala dan lebam di wajah sehingga dirawat di rumah sakit, kemudian Boimen mengalami pemukulan dan dirawat di rumah sakit.

Kemudian Legiman mengalami pemukulan, Sari, Boiran, Adi juga mengalami pemukulan. Selain mereka, kakek nenek serta anak kecil juga mengalami pemukulan dari aparat.

Terkait masalah ini, Ketua DPW SPI Sumut Zubaidah mengutuk keras atas tindakan kepolisian yang melakukan kekerasan kepada petani anggota SPI Basis Desa Mekar Jaya Kabupaten Langkat. Tidak ada alasan apa pun bagi kepolisian melakukan tindak kekerasan kepada petani.

“Banyak jalan yang bisa dilakukan untuk mendorong penyelesaian konflik pertanahan, bukan dengan melakukan penggusuran lahan apalagi melakukan kekerasan. Acapkali dengan situasi seperti ini petani selalu yang menjadi korban dan pelakunya masih saja oknum kepolisian,” tegas Zubaidah.

Ia menambahkan, konflik pertanahan yang muncul di Langkat itu salah satunya dipicu karena semakin gencar ekspansi perusahaan perkebunan luar negeri.

“Kasus anggota kita di Mekar Jaya petani berkonflik dengan PTPN II Kebun Gohor Lama sejak 1998. Setelah masuknya PT Langkat Nusantara Kepong Malaysia dan mengambil alih operasional PTPN II Kebun Gohor Lama segala upaya dilakukan perusahaan untuk menggusur petani dari lahan dan ini semakin intens. Kepolisian berulang kali melakukan intimidasi di lahan kepada petani dan akhirnya Jumat 18 November petani digusur dan mendapat kekerasan fisik,” ungkapnya.

Zubaidah menyampaikan dengan tegas agar kasus ini diselesaikan oleh Gubernur Sumut dan Kapolda. Gubernur harus menyusun langkah penyelesaian agar konflik pertanahan tidak lagi memakan korban. Ini dapat dimulai dengan mencabut izin perkebunan PT Langkat Nusantara Kepong.

“Selanjutnya kepada Kapolda agar menindak anggotanya yang melakukan kekerasan fisik terhadap petani di Mekar Jaya Langkat terutama petani yang sedang mengalami konflik tanah,” cetusnya.

Sampai Sabtu (19/11) siang pihak kepolisian masih melakukan penggusuran lahan dengan menggunakan alat berat. (RO/OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

POLISI tidak langsung menangkap creator dan buzzer berita bohong atau hoaks mengenai 7 kontainer surat suara tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Alasannya, aparat masih melakukan pendalaman dari sisi aspek alat bukti untuk penyelidikan kasus tersebut dan masih menunggu hasil laboratorium forensik terkait identifikasi suara. Setujukah Anda dengan sikap Polri tersebut?





Berita Populer

Read More